‘Selamat hari bumi!’ sapa seorang teman.
‘Iya sama-sama’ Facebook pun ramai atributnya.
Aku tak mau kalah, kutulis ‘Bagiku hari bumi setiap hari, menyelamatkan bumi pada setiap napas...’ dan komentar-komentar dan jempol bermunculan.
Semenjak sekitar tiga tahun yang lalu, setiap hari adalah hari bumi bagiku. Sebuah dunia diantarkan pada pangkuanku. Dunia ini memberiku jalan sampai disini, memberiku cita-cita sejauh ini, memberiku semangat selama ini. Aku belajar seperti bayi yang baru belajar bicara, lebih banyak tentang bumi, sedikit lebih dalam daripada teman-temanku di sekolah.
Bicara tentang masa depanku, selalu saja ada seorang yang harus kuberi kecupan. Ia seorang wanita kecil dengan hati dan otak yang besar. Ia mengajarkanku cara menjelaskan mengapa bumi begini mengapa bumi begitu. Ia tersenyum padaku, dan mengantarkanku yang takut-takut pada sekelompok teman yang kini menjadi sahabatku.
Ia menghiburku dan bilang bahwa semua akan baik-baik saja pada sekolompok pemuda yang gagal kuyankinkan untuk bergabung. Ia mengenalkan sebuah dunia baru, yang bagiku adalah sebuah pencerahan. Ia seorang guru yang mengajarkanku 101 Climate Change dan menjawab semua pertanyaanku akan politik Sirkus December. Ia seorang mungil yang menginspirasiku dan setiap kali kupikir aku akan berhenti, aku ingat caranya mengedip menggodaku, dan lalu aku tinggal. Ia seorang yang membuat setiap hariku menjadi hari bumi.
biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar