biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.

Minggu, 28 Maret 2010

duaenam

Katanya sih hutan bakau. Lebih tepatnya karpet di tengah-tengah istana. Sekelilingnya rumah menjulang tinggi. Rasanya tidak melebih-lebihkan dibilang istana, toh rupanya betul meniru US Capitol atau istana megah dengan pilar-pilar. Siapa yang tinggal dalamnya? Pembantu dan dua anak.

Aku jalan menyusuri kanopi-kanopi yang rindang. Sungguh janggal rasanya pemandangan, tak begitu jauh, gedung-gedung bertingkat dan plang iklan jalan mendominasi. Si hijau ini rupanya berjuang keras untuk hidup, bertahan di antara serdadu istana yang menghimpit.

Jangan heran kalau berniat datang. Gerbang lahan hijau ini hanya serupa halte busway.Tak ada lahan parkir, seberangnya area komersil. Aku terhela, begitulah nasib si hijau yang kesepian.

dualima

Entah setelah berapa lama, aku mengeluarkan butir-butir merah yang biasanya bedebu dalam kotak kaca. Menggenggamnya kuat-kuat di dalam telapak tangan yang berkeringat di balik bantal. Aku meringkuk dalam selimutku yang umurnya lebih muda hanya 4 tahun dariku. Menutupi kepala hingga ujung kaki. Aku mencoba mengingat dan melantunkan doa yang telah kudaraskan sejak usiaku 4 tahun. Tapi kutemukan, aku terbata-bata. Mencari kata-kata yang lupa.

Entah setelah berapa lama, tubuhku yang tegang mulai melemas. Sambil masih berbisik-bisik dalam selimut aku mulai tenang. Awan kelabu yang membungkus mulai menyingkir. Aku tertidur dalam bisik-bisik yang menenangkan.

Sore itu, dalam bulir-bulir yang kugenggam, aku berdoa.

duaempat

Terakhir kali kuingat, aku dikeliling orang-orang yang kusayangi. Aku ingat malam-malam itu, mengendap-endap naik ke atas kamarmu, kikik-kikik tertahan dari gadis-gadis di belakangku.

Aku ingat wajahmu ketika menerima kotak itu. Isinya celana dalam berenda cantik berwarna ungu, warna kesukaanmu. Ditempel dengan rapih dengan tulisan warna warni. Aku ingat ketika dengan gelak tawa kita menertawai hadiah gila itu. Kotak celana dalam dewasa dengan sebungkus kondom belum dipakai. Kami bilang ‘Kini kau telah dewasa, kawan!’

Aku kaget ketika pesan oranye berkelap-kelip sore ini mengingatkanku bahwa minggu depan hari itu terulang lagi. Aku baru sadar, betapa waktu memisahkan kita. Kita semua, begitu jauh.

Rabu, 24 Maret 2010

duatiga

‘Kau takut?’
‘Tidak’
‘Lalu?’
‘Hanya...’
‘Kau telah berjanji’
‘Ya, aku ingat’
‘Janjimu...’
‘Tak seorang pun boleh memecahkannya lagi’
‘Bukan’
‘Bukan? Lantas?’
‘Seandainya pun pecah, kamu akan berhenti menangis dan bangun’
‘Ohiya, itu juga’
‘Nah sudah ingat’
‘Iya aku ingat’
‘Jadi?’
‘Jadi apa?’
‘Kamu takut?’
‘Aku takut, takut sekali. Aku yakin aku bisa bangun. Tapi aku tahu rasanya pecah itu tak enak dan aku ketakutan’
‘Takut apa? Takut sendirian?’
‘Bukan’
‘Lalu?’
‘Takut kesepian’
‘Kau bercanda’
‘Aku sungguh-sungguh’
‘Kau bukan kau yang kukenal’
‘Kau hanya memandangku dari kaca, bagaimana kau kenal?’
‘Kalau begitu pecahkan kaca ini, bergabunglah bersamaku, abadi dalamku, Sang Waktu’

duadua

Kini saatnya aku bicara. Entah kepada hati atau logika yang memenjarakanmu. Kau mau kejujuran, sayang? Aku tahu dimana yang salah, aku tahu bagian mana yang patah, hanya saja aku tak mungkin membawamu. Kau terjebak dalam intuisimu sendiri, kau merasa dengan keperempuananmu, berpikir pula dengan itu, begitu juga dengan segala spekulasi konyol dalam kepalamu itu. Kau pun mencinta denganya.

Kau sering bertanya padaku di cermin, ‘Bawa aku pada jalannya, Waktu’, dan aku selalu menjawab jalannya ada di depan matamu yang buta. Kau lalu tersedu, patah hati katamu. Sambil mengusapmu aku bilang, ‘Biar aku yang sembuhkan. Hanya aku yang bisa sembuhkan, sayang’.

Senin, 22 Maret 2010

duasatu

Pada kelas bahasa Inggris untuk akademis pagi ini, kami menonton dokumenter riset singkat tentang kesadaran perilaku berdasarkan gender dalam perkembangan anak-anak.

Anak-anak lucu dari usia 1 tahun, 3-4 tahun, 7 tahun dan 11 tahun ditanya tentang lawan jenisnya. Mengejutkan, ternyata perbedaan perilaku yang kita dapatkan berdasarkan gender telah terjadi sejak kita dalam kandungan. Gender pada dasarnya adalah label, seperti nama. Tak terlalu berpengaruh apakah kau Rani, Rina atau Rini. Tapi itulah yang melekat.

Jadi mengenai masalah keseteraan gender yang dari kemarin sedang ribut diperbincangkan. Menonton video ini aku jadi sadar. Gender adalah hasil dari labelling customary, budaya berperilaku dan memperlakukan.

Minggu, 21 Maret 2010

duapuluh

Pada pesta pernikahan rekan ibuku, aku harus berdiri diatas hak setinggi 10 centimeter selama beberapa jam. Kalau kakiku bisa bicara, pastilah kakiku akan berteriak-teriak tak karuan.

Bayangkan, kakiku yang lebar bentuknya harus dijejalkan rapat dalam selop sempit berkulit putih. Kakiku yang malang harus menahan berat tubuhku, bertumpu menjijit pada sebuah ruas telapak kaki yang kecil.

Aku takjub pada perempuan-perempuan yang dengan mudahnya berdiri anggun diatas stileto-stileto neraka itu. Ibuku bilang ‘Belum lulus jadi wanita kalau belum bisa lari diatas high heels’

I think, i wasnt born to stand on high heels, but i believe i was born to stand out.

sembilanbelas

Imagine no possessions
I wonder if you can

Kunyanyikan lagu itu untuk seorang teman baru dan kepada semua orang yang pernah berpikiran sama terhadapku.
Aku benci dinilai karena apa yang kumiliki. Aku benci dihakimi karena apa yang dapat kunikmati.

‘I owned nothing, arent we all?’ jawabku.

Bukankah semua dari kita hanya terjebak pada dunia temporari dengan pandangan artifisial? Bukankah kita bernilai atas apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan apa yang kita punya? Bukankah dunia yang ingin kau ubah, akan menjadi lebih baik bila hal itu dimulai dari kepalamu, bahwa kita semua sama. Tanpa satupun lebih tinggi dari yang lain.

delapanbelas

Ketika sedang beres-beres kamar, aku menemukan sebuah folder biru, tumpah ruah dengan kertas-kertas aneka ragam. Tulisan corat-coret, ada juga tulisan di selembar tissue dapur. Tulisan-tulisanku ketika kecil dulu. Aku menulis sejak bisa menulis dengan pensil, kutempel di dinding kamar yang warnanya ungu.

Waktu kecil, aku menulis apa saja yang kulihat dan kurasa. Aku sering cerita pada boneka-bonekaku, aku berceloteh pada teman-teman dan ayahku. Ketika besar, aku tidak lagi banyak bercerita walaupun aku melihat, mendengar, dan lebih banyak lagi berpikir. Tapi aku lupa caranya menulis...

Membaca tulisan anak-anak itu membuatku rindu lagi menggenggam pena dan menulis sejujur aku kecil yang berceloteh.

tujuhbelas

Dari kecil ayahku membelikanku banyak buku bacaan yang selalu diceritakannya sebelum tidur. Kami tidak berkelimpahan saat itu. Tapi ayahku memaksa menyicil kredit untuk membeli satu set ensiklopedia ‘Mengapa Begini Mengapa Begitu’.

Buku-buku lain tentang putri-putri, sebagian dalam bahasa Inggris. Ada sebuah cerita yang kubaca ratusan kali. Judulnya ‘Tuan dan Nyonya Cuka’ kisahnya tentang para kurcaci yang tinggal dalam botol, bekas botol cuka. Aku sering berkhayal tinggal dalam botol, pasti sempit sekali tapi pasti menyenangkan karena pasti hening dan tenang.

Mungkin nanti, kalau aku punya putri aku akan ajak ia mengkhayal untuk tinggal dalam botol bersama Tuan dan Nyonya Cuka.

Rabu, 17 Maret 2010

enambelas

‘itu namanya pergeseran makna nasionalisme. Masa senin tanpa upacara, dulu aku selalu jadi petugas upacara lho.’ Kata seorang sahabatku di terik matahari.

‘Aku juga.. tapi tidak tiap senin’ sahutku

‘Dari SD begitu’

‘Aku malah dari TK, jadi itu tuh.. apa..’ kataku sambil mengayunkan tangan ke depan seolah memimpin lagu.

‘Oh.. dirigen.. eh dirijen...’

‘Hahahaha.. dirigen mah Rinso.’ Tawaku

‘Dirigen tuh minyak.. hahah dirijen maksunya’ katanya ikut tertawa

Setelah jalan beberapa meter ke depan....

‘HAH? Rinso mah detergen!’ salaknya tiba-tiba padaku.

‘Ohiya ya? Kataku polos.

‘Dasar dodol... Gimana mau belajar banyak bahasa? Bahasa Indonesia aja susah’

‘Keselip dikit’ kataku sambil meringis.

limabelas

Ada apa dengan perempuan? Aku berkaca pada cermin yang memberiku jawaban datar ‘Kau seroang perempuan’. Aku membalas ‘Aku tahu, lalu?’. Cermin pun termangu.

Kadang aku bertanya, mengapa tuhan yang maha adil memberikan sedikit lebih banyak lekukan di tubuh manusia tanpa penis ketimbang yang memilikinya. Mengapa membagi tenaga dan kekuatan sedikit lebih sedikit ketimbang pria. Mengapa membuatnya lebih cantik daripada makhluk yang lain.

‘Itu semua cuma konstruksi pasar aja. Feminisme itu perjuangan kelas’ Kata seorang wanita yang sedang kutatapi.

Oh, kalau begitu, kataku pada cermin lagi. Tak ada yang salah dengan keperempuananku. Aku hanya diberkahi sedikit lebih banyak dan sedikit lebih sedikit, seperti semua yang lain. Itu saja.

Senin, 15 Maret 2010

empatbelas

Aku menemukan diriku terpisah dari yang lain. Memberontak dari sistem, aku bilang di depan kelas 'ini bukan ilmu, kan Pak? Bukan kan?' pada seorang guru yang menyuruhku tunduk.

Aku menemukan diriku berbeda, 'Untuk apa ilmu ini?' tuntutku pada guruku di kelas yang menyuruhku menghafal ini dan itu. Beliau bilang 'hafalkan saja dalam kepalamu yang bebal itu'. Aku bilang 'Buat apa kalau tak ada fungsinya'.

Aku menemukan diriku menuntut jawab, guruku bilang 'Nak, tidak bisakah kau seperti anak-anak yang lain? Ikuti saja sistem ini. Sudah terbukti puluhan tahun dari jaman bapakmu. Nah sekarang bapakmu bisa menyekolahkanmu kan? Berarti sistemnya berhasil'

Aku bilang, ' Bu, aku berhenti sekolah'.

Minggu, 14 Maret 2010

tigabelas

Aku senang hari minggu yang penuh cerita. Hari minggu adalah satu-satunya hari dimana aku dapat melewatkan makan siang dengan Ibuku. Hari satu-satunya dalam seminggu di mana aku dapat benar-benar 'melihatnya'. Satu-satunya hari di mana aku benar-benar memilikinya.

Hari minggu selalu penuh celoteh, di antara makan siang tanpa diet dan makanan pencuci mulut yang kutunggu-tunggu. Aku akan cerita tentang celoteh-celotehku yang kutahan selama enam hari sebelumnya. Dan ia juga akan berbagi tentang berbagai ketegangan yang terjadi selama seminggu.

Hari minggu, hari berbagi. Di antara hari-hari dingin yang lain, di hari Minggu aku menemukan kehangatannya kembali.

Sabtu, 13 Maret 2010

duabelas

Aku sering bertanya-tanya, apa yang dipikirkan orang-orang di meja samping yang melihat meja makan kami. Seorang bocah sibuk main PSP, kakak yang melamun ke arah jalanan , seorang ayah yang tak berhenti menekuni Blackberry-nya dan sebatang lilin yang meleleh dalam kesunyian di tengah meja makan keluarga kami malam minggu.

Kursi di meja makan keluargaku selalu hanya tiga. Aku heran kenapa restoran selalu menyediakan empat. Tidak tahukah mereka kalau tidak semua keluarga punya ayah, ibu dan dua anak seperti program KB pemerintah?

Meja makan seharusnya penuh celoteh katanya, tapi tidak tahukah mereka, kadang meja makan hanya perlu lilin yang membisu.

Jumat, 12 Maret 2010

sebelas

Tiga orang bocah berpakain kumel mengantri malu-malu pada barisan di Restoran cepat saji dekat rumahku. Aku dengar seorang dari antaranya berkata "Aduh, udah yuk.. Malu nih." Sambil meremas-remas tangannya yang memegang celengan kaleng untuk dijual. Yang satu lagi diam tapi tak beranjak.

Seorang wanita muda berpakaian sederhana menyelsaikan transaksinya di kasir sebelahku, lalu menoleh pada ketiga bocah itu tadi 'Ayo, mau duduk dimana? Di atas?'

Sambil menemani adikku makan, aku tersenyum pada perempuan itu. Salah satu gula yang masih tersisa di galaknya Kota Jakarta. Malam itu ketiga anak jalanan itu menyicip sedikit sedikit kemanisan sederhana. Aku, cukup beruntung untuk menyaksikannya.

sepuluh

Minggu lalu kudengar seorang anak mati tertabrak truk ketika dikejar satpolpp, sebelumnya seorang bocah digebuki sampai mati oleh oknum petugas. Berikutnya seorang bayi nyemplung ke dalam panci bakso dagangan ibunya yang ditabrak mobil satpollpp dalam razia.

Pagi tadi, seorang ibu sambil mendekap bayi berlari melintas lampu hijau
yang diterjang kuda-kuda besi. Sebagian mencoba sembunyi di balik pagar jalanan. Mereka adalah joki-joki pagi yang ketakutan ketika melihat mobil satpolpp yang garang mengintai mangsa di belakangku.

Mereka berlari kabur ke arah mobil-mobil pagi yang terburu-buru bekerja, mencari nafkah untuk perut mereka sendiri, sementara orang-orang bernyawa banyak itu,lebih ketakutan digiring petugas daripada digiring maut.

Rabu, 10 Maret 2010

sembilan

Seiring waktu, aku tahu bahwa sahabat bukan tentang memakai gelang berwarna sama, teman bermain tak harus selalu seumur, lawan bicara tak harus sederajat dan teman sejati tak harus selalu bersama. Mereka bisa siapa saja, terpisah sangat jauh bahkan mungkin tak saling temu.

Seiring waktu, aku sadar bahwa teman tak selalu hitam putih, lawan jenis tak harus selalu jadi cinta dan ada kalanya banyak orang yang kita jumpai menjadi rekan secukupnya saja.

Seiring waktu aku belajar, sendirian bukan artinya kesepian dan kita tak harus selalu memaksakan diri untuk diterima, bila kita terlahir untuk berbeda.

Seiring waktu, aku berkawan dengan diriku sendiri.

Selasa, 09 Maret 2010

delapan

Tadi pagi guruku menunjukan sebuah gambar jembatan besar kepada kelas. Ia bertanya, dimana jembatan itu. Celetukan-celetukan berasal dari sana-sini. “San fransisco”, “Sungai Thames”, “Brooklyn”, mereka menjawab.

Guruku yang orang asing itu tersenyum dan bilang “Sebenarnya ini di Surabaya"

Aku tersenyum kecut dalam hati. Aku duduk di antara 30 anak lainnya yang lebih lancar menggunakan bahasa Inggris dan kata-kata serapan daripada bahasa Indonesia-nya sendiri. Anak-anak yang sebagian besar dari mereka pernah sarapan di Las Vegas, tetapi belum tentu pernah melihat isi Keraton. Anak-anak khatam perdana menteri negri lain daripada presidennya sendiri. Aku dan mereka adalah salah satu produk abrasi yang harus diselamatkan, untuk bumi Indonesia.

Senin, 08 Maret 2010

tujuh

Aku merajut sejuta mimpi dalam semalam. Menguatkan fondasi dasarnya dengan banyak bincang-bincang purnama. Membangun dindingnya dengan aksara. Menghias jendelanya dengan membuka mata. Dan membiarkan atapnya dari kaca, agar mentari dapat senantiasa masuk, membaharui seisi ruangan.

Tiba-tiba suatu sore di bulan Oktober yang abu, sebuah angin puting beliung datang meniup habis jedelanya. Lalu kemudian, banjir menggerogoti tembok-temboknya. Dan gempa bumi meretakkan tiang pancangnya. Aku sendirian. Di pojok kamar yang kini telanjang, berdiri di atas lantai yang hampir goyah.

Seorang pewarna langit datang menawarkan sekeranjang kisah untuk bermimpi, memunguti reruntuhan yang berantakan.

“Bagaimana bisa kalau kau tak beranjak dari pojok itu?” tanyanya.

Minggu, 07 Maret 2010

enam

Kegamangan, kehampaan dan tatap kosong yang tertawa-tawa di dalam kamar. Aku rindu senyum dari seorang gadis berwajah bulat yang menyandang tas punggung berat penuh buku. Aku rindu seorang gadis yang bicara cepat tanpa titik koma yang bermimpi dapat memberi makan semua anak jalanan. Aku memimpikan seorang gadis yang dapat tertawa pada bayangannya di cermin.

Aku kehilangan ia yang minggat entah kemana dan entah kapan kembali. Berusaha setengah mati mengisi lubang kosong itu dengan setumpuk film, sederet buku dan sekelompok teman-teman khayalan yang memenuhi seluruh kamar selain kekosongan itu.

“Kumohon jangan pernah cari aku, aku tak ingin kembali” katanya sebelum beranjak.

Sabtu, 06 Maret 2010

lima

Malam ini sebuah mimpi burukku menjadi nyata ditengah keceriaan meja pasta teman-temanku. Dan sebuah kegelisahan meronta-ronta begitu hebat dalam perutku. Rasa berat yang tak mau pergi, kepalaku berdesing memikirkan semua kemungkinan yang terburuk dan jiwaku yang ringkih mulai membangun satu demi satu benteng pertahanan.

Aku tahu dewasa artinya, bertanggung-jawab atas segala yang kita perbuat. Menerima akibat dan resikonya. Tapi terkadang menjadi dewasa adalah keinginan bukan kemampuan. Mungkin sudah saatnya aku harus benar-benar mampu menjadi dewasa, bukan hanya ingin. Bahwa aku, dengan segala kesadaran dan tanggung-jawab harus siap pada kemungkinan terburuk sekalipun. Karena aku telah memutuskan untuk jadi dewasa ketika melakukannya.

Jumat, 05 Maret 2010

empat

Wajah kota terbaris dalam lorong yang penuh debu. Aku menutup mata, merasakan angin yang melengnggang dari pintu dan jendela yang terbuka. Berbagai suara melebur di telingaku, wajah-wajah termenung, tersenyum, terkantuk-kantuk dianjlok gerbong-gerbong yang berlari sebisa ia bisa, diusianya tidak lagi muda.

Berbagai mata saling menatap waswas, sebagian menatap menyedihkan minta dikasihani, sebagian acuh. Aku di duduk di tengah sebuah gerbong yang lampunya padam, kereta ekonomi terakhir dari ujung Jakarta, merasakan tiap rasa yang mengawang di antara keringat-keringat para pekerja, karyawan, mahasiswa dan pengemis-pengemis yang menatap menerawang pada keremangan. Ini rasa kotaku, wajah kota yang terlukis pada ular besi yang berlari.

tiga

Bahasa membawa kita pada gerbang dunia baru. Menyatukan sinapsis-sinapsis syaraf pada otak di kepala –kepala yang berbeda. Bahasa mengungkapkan pemikiran, ide-ide, suara dan segala buah rasa kepada sesamanya. Bahasa membuat kita merasa bahwa kita tidak berdiri sendirian.

Bahasa suku kuno di daratan Mongol, di Amerika Latin daerah barat, di Afrika bagian tengah dan sebagian besar bahasa pada Papua bagian utara hampir punah. Penggunanya hanya tinggal hitungan jari. Bayangkan bahasa yang kau gunakan, hanya dimengerti satu-dua orang kawanmu saja, atau hanya dirimu seorang. Betapa sepi dunia tanpa bahasa, tanpa pengertian. Bahasa mengantar kita pada sebuah rasa yang membuat kita merasa sama.

Rabu, 03 Maret 2010

dua

Segalanya berawal dari dari rahim seorang perempuan. Bumi kita berhutang pada tarian elok tubuh yang bersolek. Menghutang nyawa, menghutang raga. Setelahnya, para pemuka tumbuh dari buncitnya.

Perempuan adalah lambang kesuburan, tanah yang memberi dan menyusui,.Tubuhnya adalah lambang kehidupan. Dari dadanya sebuah kehidupan berawal.

Bumi sekarat, menangis terjerat asap laknat. Kembalilah pada sang ibu, perempuan yang memberikan napas, melahirkan, merawat dan mengajar. Lalu setiap dari napas baru yang akan memenuhi bumi ini akan ingat bahwa ibunya adalah seorang perempuan, buminya juga seorang ibu yang memberi dan menyusui.

Selamatkan bumi yang sekarat dengan belai kasih perempuan, sang Ibu yang memberi dan menyusui.

satu

Untuk itu kumulai dari 100. Karena aku ingat pertama kali... Suatu siang panas di pertengah tahun 90an. Aku mendengar sebuah suara yang rasanya dekat sekali dariku, bahkan rasanya dari dalam. Suara itu berteriak ‘Bunda, aku sampai seratus!’. Kali itu aku sadar, aku manusia, aku hidup, aku ada. Maka mari bersama belajar bertita lagi mendekati hitungan ke-seratus. Bukan untuk sesiapa, bukan untuk pula angka seratus yang sekarang sedang pongah. Tapi untukku sendiri dan untuk awang-awang mimpi yang di depan jalan. Mungkin dengan belajar menghitung seperti dulu lagi, aku bisa menemukan diriku lagi, menyadari lagi bahwa aku manusia, aku hidup, aku ada.