Aku baru tiba dari atas jembatan penyebrangan, ketika kulihat semua gerobak, sepeda dan pikulan kaki lima dibawa terburu-buru oleh pemiliknya. Mereka berbondong-bondong melewatiku, berlari berpencar. Aku dapat rasakan ketakutan mereka, dibawa angin menerpa wajahku saat mereka berlari melintasiku.
Tak lama satu-dua orang mengintip ke jalanan yang sedang sedikit padat, ternyata mobil satpol-PP yang berwarna putih kotor mendekat. Dengan segerombol petugas di dalamnya. Mereka melintas tenang-tenang saja, setelah mereka berlalu pedagang pun satu per satu kembali ke tempatnya.
Aku sedih melihatnya, dan bertanya-tanya bagaimana perasaan mereka sesungguhnya, sehari-hari dikejar-kejar, diliputi rasa takut gerobak mereka digulingkan, padahal mungkin itulah hidup mereka sekeluarga.
biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.
Sabtu, 08 Mei 2010
limasatu
Aku lahir pada hari dimana semua kapitalis diprotes. Aku mendengarkan kakak-kakakku bicara tentangnya, aku belum paham, bahwa mereka membicarakanku.
Aku berdiskusi bagaimana sepatu yang kita beli diproduksi dengan keringat berupah murah. Pulangnya Ibuku mengajakku belanja sepatu, satu sepatu dapat membayar kontrakan rumah, sekolah dan tunjangan hidup pembuat sepatunya beberapa bulan.
Aku bicara tentang racun dari perangkat teknologi, bagaimana itu tak dapat di daur ulang dan beracun. Ayahku menawarkan blackberry seri terbaru.
Aku bicara tentang diet karbon, pesawat boros emisi. Akhir minggu ibuku mengajakku terbang ke Bali, untuk sekedar mandi dan belanja.
Andai kau tahu...di antara segalanya tak pernah mudah untukku.
Aku berdiskusi bagaimana sepatu yang kita beli diproduksi dengan keringat berupah murah. Pulangnya Ibuku mengajakku belanja sepatu, satu sepatu dapat membayar kontrakan rumah, sekolah dan tunjangan hidup pembuat sepatunya beberapa bulan.
Aku bicara tentang racun dari perangkat teknologi, bagaimana itu tak dapat di daur ulang dan beracun. Ayahku menawarkan blackberry seri terbaru.
Aku bicara tentang diet karbon, pesawat boros emisi. Akhir minggu ibuku mengajakku terbang ke Bali, untuk sekedar mandi dan belanja.
Andai kau tahu...di antara segalanya tak pernah mudah untukku.
Label:
100
limapuluh
‘Selamat hari bumi!’ sapa seorang teman.
‘Iya sama-sama’ Facebook pun ramai atributnya.
Aku tak mau kalah, kutulis ‘Bagiku hari bumi setiap hari, menyelamatkan bumi pada setiap napas...’ dan komentar-komentar dan jempol bermunculan.
Semenjak sekitar tiga tahun yang lalu, setiap hari adalah hari bumi bagiku. Sebuah dunia diantarkan pada pangkuanku. Dunia ini memberiku jalan sampai disini, memberiku cita-cita sejauh ini, memberiku semangat selama ini. Aku belajar seperti bayi yang baru belajar bicara, lebih banyak tentang bumi, sedikit lebih dalam daripada teman-temanku di sekolah.
Bicara tentang masa depanku, selalu saja ada seorang yang harus kuberi kecupan. Ia seorang wanita kecil dengan hati dan otak yang besar. Ia mengajarkanku cara menjelaskan mengapa bumi begini mengapa bumi begitu. Ia tersenyum padaku, dan mengantarkanku yang takut-takut pada sekelompok teman yang kini menjadi sahabatku.
Ia menghiburku dan bilang bahwa semua akan baik-baik saja pada sekolompok pemuda yang gagal kuyankinkan untuk bergabung. Ia mengenalkan sebuah dunia baru, yang bagiku adalah sebuah pencerahan. Ia seorang guru yang mengajarkanku 101 Climate Change dan menjawab semua pertanyaanku akan politik Sirkus December. Ia seorang mungil yang menginspirasiku dan setiap kali kupikir aku akan berhenti, aku ingat caranya mengedip menggodaku, dan lalu aku tinggal. Ia seorang yang membuat setiap hariku menjadi hari bumi.
‘Iya sama-sama’ Facebook pun ramai atributnya.
Aku tak mau kalah, kutulis ‘Bagiku hari bumi setiap hari, menyelamatkan bumi pada setiap napas...’ dan komentar-komentar dan jempol bermunculan.
Semenjak sekitar tiga tahun yang lalu, setiap hari adalah hari bumi bagiku. Sebuah dunia diantarkan pada pangkuanku. Dunia ini memberiku jalan sampai disini, memberiku cita-cita sejauh ini, memberiku semangat selama ini. Aku belajar seperti bayi yang baru belajar bicara, lebih banyak tentang bumi, sedikit lebih dalam daripada teman-temanku di sekolah.
Bicara tentang masa depanku, selalu saja ada seorang yang harus kuberi kecupan. Ia seorang wanita kecil dengan hati dan otak yang besar. Ia mengajarkanku cara menjelaskan mengapa bumi begini mengapa bumi begitu. Ia tersenyum padaku, dan mengantarkanku yang takut-takut pada sekelompok teman yang kini menjadi sahabatku.
Ia menghiburku dan bilang bahwa semua akan baik-baik saja pada sekolompok pemuda yang gagal kuyankinkan untuk bergabung. Ia mengenalkan sebuah dunia baru, yang bagiku adalah sebuah pencerahan. Ia seorang guru yang mengajarkanku 101 Climate Change dan menjawab semua pertanyaanku akan politik Sirkus December. Ia seorang mungil yang menginspirasiku dan setiap kali kupikir aku akan berhenti, aku ingat caranya mengedip menggodaku, dan lalu aku tinggal. Ia seorang yang membuat setiap hariku menjadi hari bumi.
Label:
100
empatsembilan
Ia tertidur lelap dalam dekap ibunya, dibawah terik matahari yang menggila siang itu. Kusentuh perlahan lengan ibunya yang juga terkantuk-kantuk berkeringat. ‘Bu, ini buat anaknya, buat main’ Kusodorkan sebuah tas warna-warni berisi boneka dan beberapa buku.
Matanya tak mungkin kulupa, terkejut sekaligus bahagia. Bukan receh yang ia butuhkan, bukan uang-uang kumal yang dilemparkan ke mangkuk di hadapannya, tapi perhatian sederhana saja.
‘Namanya siapa Bu?’
‘Indah’ Dan aku pun berlalu.
Siang berikutnya, ia sedang tertawa-tawa membaca buku Tiga Babi Kecil.
‘Daah Indah’ Kusapanya, ia terkejut namanya dipanggil.
Ibunya membisiki dan ia pun tersenyum, ‘Daah Kakak! Hati-hati yah!’
Hari itu hatiku sejuk.
Matanya tak mungkin kulupa, terkejut sekaligus bahagia. Bukan receh yang ia butuhkan, bukan uang-uang kumal yang dilemparkan ke mangkuk di hadapannya, tapi perhatian sederhana saja.
‘Namanya siapa Bu?’
‘Indah’ Dan aku pun berlalu.
Siang berikutnya, ia sedang tertawa-tawa membaca buku Tiga Babi Kecil.
‘Daah Indah’ Kusapanya, ia terkejut namanya dipanggil.
Ibunya membisiki dan ia pun tersenyum, ‘Daah Kakak! Hati-hati yah!’
Hari itu hatiku sejuk.
Label:
100
empatdelapan
Rasanya seperti keluar dari tubuh untuk beberapa jam saja. Melihat sesosok tubuh gempal yang menari-nari, tertawa-tawa kesenangan, bercerita dalam tiga bahasa sekaligus.
Rasanya nyaman, seperti tidak punya kaki untuk menapak. Tak ada berat tubuh yang harus ditopang, tak ada beban hidup yang harus digendong. Cukup tertawa saja, goyangkan badan sedikit-sedikit, dan semua akan baik-baik saja.
Rasanya lucu, menertawakan ocehan sengau tentang ini-itu, kau tertawa, tapi kau tahu itu kau yang bicara.
Rasanya sakit, ketika isi perutmu sudah keluar, kakimu kembali ke tanah, kepalamu kembali terpasang, bebanmu kembali lagi, semuanya harus kau topang lagi, ketika kau sadar dan gelasmu telah kosong.
Rasanya nyaman, seperti tidak punya kaki untuk menapak. Tak ada berat tubuh yang harus ditopang, tak ada beban hidup yang harus digendong. Cukup tertawa saja, goyangkan badan sedikit-sedikit, dan semua akan baik-baik saja.
Rasanya lucu, menertawakan ocehan sengau tentang ini-itu, kau tertawa, tapi kau tahu itu kau yang bicara.
Rasanya sakit, ketika isi perutmu sudah keluar, kakimu kembali ke tanah, kepalamu kembali terpasang, bebanmu kembali lagi, semuanya harus kau topang lagi, ketika kau sadar dan gelasmu telah kosong.
Label:
100
empattujuh
‘Dari mana non, jarang main sekarang?’ sapa tukang kue cubit yang tak sengaja berpapasan di stasiun.
‘Dadah Kakak! Ati-ati ya!’ teriak seorang gadis pengemis di jembatan penyebrangan.
‘Baru pulang Non? Sore amat?’ tanya tukang ojek ditikungan.
‘Enggak turun di halte biasa Neng?’ sapa kenek bus yang m embangunkan ketika sampai.
‘Hei Vy, lama enggak makan di bapak deh?’ tanya tukang nasi goreng di depan kantor.
‘Neng, cirengnya masih hangat nih. Gratis deh..’ kata tukang gorengan sambil menyodorkan padaku sepotong gorengan hangat.
Sapaan-sapaan itu kutemukan siang ini di jalan yang sehari-hari kulewati, aku sedih memikirkan betapa aku akan sangat-sangat-sangat merindukannya nanti.
‘Dadah Kakak! Ati-ati ya!’ teriak seorang gadis pengemis di jembatan penyebrangan.
‘Baru pulang Non? Sore amat?’ tanya tukang ojek ditikungan.
‘Enggak turun di halte biasa Neng?’ sapa kenek bus yang m embangunkan ketika sampai.
‘Hei Vy, lama enggak makan di bapak deh?’ tanya tukang nasi goreng di depan kantor.
‘Neng, cirengnya masih hangat nih. Gratis deh..’ kata tukang gorengan sambil menyodorkan padaku sepotong gorengan hangat.
Sapaan-sapaan itu kutemukan siang ini di jalan yang sehari-hari kulewati, aku sedih memikirkan betapa aku akan sangat-sangat-sangat merindukannya nanti.
Label:
100
empatenam
Tadinya gaunku satu warna, warna jingga saja, tanpa corak, tanpa gambar, tanpa renda. Dan mereka datang membubuhkan berbagai warna.
Banyak yang berlalu, orang-orang gila dalam hidupku yang tadinya tanpa corak. Banyak yang pergi, orang-orang berharga yang tak mampu kupeluk.
Banyak yang terlupa, orang-orang sederhana tanpa warna mencolok yang telah menuangkan sedikit warna di gaunku.
Banyak orang yang hilang, orang-orang yang kusakiti, tak sengaja kutumpahkan warna di gaun mereka terlalu banyak.
Tapi banyak juga yang tinggal, melukis dengan hati-hati, orang-orang yang kuberi ruang dan terlelap dalam hati.
Kalau aku pergi ke pesta dansa nanti, maukah kau membubuhkan setitik warna saja untukku?
Banyak yang berlalu, orang-orang gila dalam hidupku yang tadinya tanpa corak. Banyak yang pergi, orang-orang berharga yang tak mampu kupeluk.
Banyak yang terlupa, orang-orang sederhana tanpa warna mencolok yang telah menuangkan sedikit warna di gaunku.
Banyak orang yang hilang, orang-orang yang kusakiti, tak sengaja kutumpahkan warna di gaun mereka terlalu banyak.
Tapi banyak juga yang tinggal, melukis dengan hati-hati, orang-orang yang kuberi ruang dan terlelap dalam hati.
Kalau aku pergi ke pesta dansa nanti, maukah kau membubuhkan setitik warna saja untukku?
Label:
100
empatlima
Lihat bagaimana waktu mempermainkan kita. Berkejaran dengan perasaan yang tumbuh, lalu dilayukannya, lalu disentuhnya lagi jadi nyala. Kita terbata-bata, tertatih-tatih mengejar waktu yang berlari saja, terbahak-bahak melihat kita megap-megap. Dan kita berpeluh, menatap mata dan bilang satu sama lain bahwa rasa itu datang terlambat, atau terlalu cepat. Sama saja.
Akhirnya kita menyadari bahwa bukan jarak musuh hati yang paling utama, tapi waktu. Ia dapat membunuh dan lalu menyiksa tanpa peduli suara jeritku, sampai aku mengaku pilu, mengaku kalah pada sang waktu.
Kamu tahu, kini waktu sedang duduk tersenyum memandangi kita. Ia tertawa dan berkata ‘Siapa yang akan kubunuh kali ini?’
Akhirnya kita menyadari bahwa bukan jarak musuh hati yang paling utama, tapi waktu. Ia dapat membunuh dan lalu menyiksa tanpa peduli suara jeritku, sampai aku mengaku pilu, mengaku kalah pada sang waktu.
Kamu tahu, kini waktu sedang duduk tersenyum memandangi kita. Ia tertawa dan berkata ‘Siapa yang akan kubunuh kali ini?’
Label:
100
Rabu, 21 April 2010
empatempat
Aku mengambil sepatuku pagi itu dari lemari dan lalu berpikir bahwa aku tak mungkin dapat membawa entah berapa pasang sepatu itu ke tempatku akan kuliah nanti.
Aku membereskan bukuku yang berderet-deret dan berpikir, berapa kardus dan berapa koper yang kubutuhkan untuk membawa semua bukuku ini. Bahkan sederet buku yang belum kubuka bungkusnya.
Aku membuka laciku dan melihat tumpukan alat tulis yang sering kupakai irit-irit. Aku tak mungkin membawa mereka juga. Juga tas-tasku yang menumpuk dipojok kamar.
Aku tahu saat aku kembali, aku tak akan menggunakan mereka lagi. Tapi rasanya buruk. Ditinggal memang tak enak rasanya, tapi meninggalkan lebih parah lagi.
Aku membereskan bukuku yang berderet-deret dan berpikir, berapa kardus dan berapa koper yang kubutuhkan untuk membawa semua bukuku ini. Bahkan sederet buku yang belum kubuka bungkusnya.
Aku membuka laciku dan melihat tumpukan alat tulis yang sering kupakai irit-irit. Aku tak mungkin membawa mereka juga. Juga tas-tasku yang menumpuk dipojok kamar.
Aku tahu saat aku kembali, aku tak akan menggunakan mereka lagi. Tapi rasanya buruk. Ditinggal memang tak enak rasanya, tapi meninggalkan lebih parah lagi.
Label:
100
empattiga
Tiba-tiba Jakarta menjadi kota yang menarik bagiku. Entah kenapa ia sangat menarik beberapa bulan sebelum aku harus pergi. Banyak festival film yang ingin kutonton. Banyak undangan diskusi yang sangat menarik, banyak kesempatan belajar yang ingin kuhadiri. Dan dengan begitu, aku bertemu banyak teman baru setiap harinya.
Kadang berat rasanya memikirkan bahwa semua ini harus kutinggalkan sebentar lagi. Seperti yang pernah kutulis, saat kukembali tak ada hal yang akan tetap sama lagi. Kamu pasti bilang, ‘disana akan lebih banyak lagi!’ Tapi kau belum bisa benar-benar mengatakannya sebelum berada disana kan? Dan memulai segalanya dari nol.
Everything worth when it almost gone.
Kadang berat rasanya memikirkan bahwa semua ini harus kutinggalkan sebentar lagi. Seperti yang pernah kutulis, saat kukembali tak ada hal yang akan tetap sama lagi. Kamu pasti bilang, ‘disana akan lebih banyak lagi!’ Tapi kau belum bisa benar-benar mengatakannya sebelum berada disana kan? Dan memulai segalanya dari nol.
Everything worth when it almost gone.
Label:
100
empatdua
Sore ini aku menonton film tentang pembantaian lumba-lumba. Sungguh menyayat hati melihatnya. Tapi bukan itu saja, mereka benar-benar menangis, ada adegan dimana mereka yang telah berdarah-darah berusaha mengambil napas ke permukaan air, napas terakhir, lalu hilang dalam lautan darah. Sungguh ini semua adalah ulah kerakusan manusia yang tak masuk akal.
Pembuat film itu adalah seorang pelatih lumba-lumba yang kini menjadi seorang aktivis. Ia sungguh menginspirasi! Ia ditangkap, ia membuat video itu dengan banyak resiko. Ia membuat banyak mata terpaku. Kupikir perlu banyak lagi orang seperti Ric O’Barry di dunia. Orang-orang pemberani yang mengubah dunia dengan tangannya. Nanti, aku salah satunya.
Pembuat film itu adalah seorang pelatih lumba-lumba yang kini menjadi seorang aktivis. Ia sungguh menginspirasi! Ia ditangkap, ia membuat video itu dengan banyak resiko. Ia membuat banyak mata terpaku. Kupikir perlu banyak lagi orang seperti Ric O’Barry di dunia. Orang-orang pemberani yang mengubah dunia dengan tangannya. Nanti, aku salah satunya.
Label:
100
empatsatu
Aku sedang berjalan ke arah halte di teriknya jalanan yang dinaungi palem-palem kota. Aku sering bertanya-tanya betapa kasihan pohon-pohon itu, setiap hari mereka kekenyangan karbon dioksida dan monoksida dari kendaraan, belum lagi bus-bus kota yang kentut-kentut tanpa ampun. Asapnya hitam, kasihan pengguna motor, harus menghirup udara racun itu kalau kebetulan jalan dibelakangnya.
Ke arah halte, tiba-tiba ada suara ledakan dari atas pohon. Sebuah selongsong pelepah kosong jatuh kebawah, cukup besar bila ada tertimpa. Tapi sebuah pemandangan yang tak bisa kulupakan. Dari samping aku bisa melihat, ledakan pelepah itu melemparkan serbuk sari, bibit dari pohon-pohon itu sejauh mungkin. Seperti partikel-partikel kecil yang meluncur perlahan di udara, terlalu ringan untuk langsung jatuh ke tanah.
Rombongan bibit itu jatuh di dua ruas jalan berikutnya, aku mengikuti dengan pandanganku.
Sejauh itu sang induk berusaha melemparkan anak-anaknya agar tidak tumbuh di tempat yang sama buruk dengannya. Ya, sejauh dua ruas jalan Sudirman itu sang induk bisa menyelamatkan anak-anaknya, harapannya agar mereka bisa hidup lebih baik.
Aku merenung sambil menunggui busku yang belum tampak. Pohon saja, punya naluri untuk memberikan anaknya kehidupan yang lebih baik, sejauh yang mereka bisa. Apalagi manusia. Aku yakin kalau pohon bisa berjalan, ia akan melemparkan bibitnya lebih jauh dari dua ruas jalan.
note : hari ini dosis dobel!
Ke arah halte, tiba-tiba ada suara ledakan dari atas pohon. Sebuah selongsong pelepah kosong jatuh kebawah, cukup besar bila ada tertimpa. Tapi sebuah pemandangan yang tak bisa kulupakan. Dari samping aku bisa melihat, ledakan pelepah itu melemparkan serbuk sari, bibit dari pohon-pohon itu sejauh mungkin. Seperti partikel-partikel kecil yang meluncur perlahan di udara, terlalu ringan untuk langsung jatuh ke tanah.
Rombongan bibit itu jatuh di dua ruas jalan berikutnya, aku mengikuti dengan pandanganku.
Sejauh itu sang induk berusaha melemparkan anak-anaknya agar tidak tumbuh di tempat yang sama buruk dengannya. Ya, sejauh dua ruas jalan Sudirman itu sang induk bisa menyelamatkan anak-anaknya, harapannya agar mereka bisa hidup lebih baik.
Aku merenung sambil menunggui busku yang belum tampak. Pohon saja, punya naluri untuk memberikan anaknya kehidupan yang lebih baik, sejauh yang mereka bisa. Apalagi manusia. Aku yakin kalau pohon bisa berjalan, ia akan melemparkan bibitnya lebih jauh dari dua ruas jalan.
note : hari ini dosis dobel!
Label:
100
empatpuluh
Di sebuah siang yang panas dalam pelajaran akademik inggris. Guruku bertanya pendapat kami sekelas tentang konservasi. Mereka tertawa dan membuat lelucon tentang kerusakan bumi.
Siang itu sambil menekuni buku aku berdoa, ‘ tuhan, mereka tertawa, mereka bilang aku gila. Tolong jaga kegilaanku sampai aku besar nanti. Supaya aku tetap melekat pada bumi, supaya akhirnya mereka tahu bahwa kita tidak berbisnis denganmu untuk membeli tanah di surga, tapi bagaimana kita menjaga tanah yang sedang kau pinjamkan pada kami. Amin.’
Hari itu pun berlalu, setiap hari aku dikuatkan. Salah satunya yang membuat aku semakin mantap di jalan ini adalah mereka yang menertawakanku.
bersambung : Tuhan, Bantu Aku Agar Tetap Gila
Siang itu sambil menekuni buku aku berdoa, ‘ tuhan, mereka tertawa, mereka bilang aku gila. Tolong jaga kegilaanku sampai aku besar nanti. Supaya aku tetap melekat pada bumi, supaya akhirnya mereka tahu bahwa kita tidak berbisnis denganmu untuk membeli tanah di surga, tapi bagaimana kita menjaga tanah yang sedang kau pinjamkan pada kami. Amin.’
Hari itu pun berlalu, setiap hari aku dikuatkan. Salah satunya yang membuat aku semakin mantap di jalan ini adalah mereka yang menertawakanku.
bersambung : Tuhan, Bantu Aku Agar Tetap Gila
Label:
100
Rabu, 14 April 2010
tigasembilan
Ada lagi cinta yang entah harus dibawa kemana. Kau tahu jalan yang harus kau lalui jelas berbeda. Namun ia terlalu berharga untuk kau lepas, kau pandangi jauh disana tanpa rasa. Jemarimu tak ingin lepas, ingin selamanya menyatu. Tapi kau tau, ada bukit yang harus kau daki, begitu juga dengannya. Kau tak ingin, jemarimu mengikat dan menyandung. Sementara kau telah begitu lekat, menyandar satu sama lain.
Ada saatnya kau tahu bahwa jenis cinta ini harus berikan pelana berbeda. Mungkin bukan jemarimu yang harusnya merengkuh, namun hati. Bukan mata tapi kepercayaan. Entahlah... setelah setengah mataharipun aku mencari tahu, aku belum tahu jawabannya.
Ada saatnya kau tahu bahwa jenis cinta ini harus berikan pelana berbeda. Mungkin bukan jemarimu yang harusnya merengkuh, namun hati. Bukan mata tapi kepercayaan. Entahlah... setelah setengah mataharipun aku mencari tahu, aku belum tahu jawabannya.
Label:
100
tigadelapan
Tapi terkadang ada cinta yang harus diakhiri, tanpa disesali. Perjalanannya indah, jauh berjalan menuruni dan mendaki bukit-bukit rumput yang indah. Sampai akhirnya kau dan dia cukup lelah untuk terus berjalan. Perjalanan itu membuatmu berbagi banyak hal. Mendekatkan kau sampai ke samping tubuhnya. Dan menyatukan jemarimu lebih lekat dari apapun.
Tapi ketika kau tau saatnya berakhir. Kau akan memilih bukit lain untuk kau daki lain kali. Dan ia pun begitu. Jemari kalian merenggang, awalnya kau menangis bilang bahwa kau tak mungkin berjalan lagi sendirian. Tapi setelah beberapa waktu terseok-seok, kau berjalan tegak lagi. Dan melihatnya berjalan jauh disana, tanpa rasa lagi.
Tapi ketika kau tau saatnya berakhir. Kau akan memilih bukit lain untuk kau daki lain kali. Dan ia pun begitu. Jemari kalian merenggang, awalnya kau menangis bilang bahwa kau tak mungkin berjalan lagi sendirian. Tapi setelah beberapa waktu terseok-seok, kau berjalan tegak lagi. Dan melihatnya berjalan jauh disana, tanpa rasa lagi.
Label:
100
tigatujuh
Ada saatnya kita tahu bahwa tak semua cinta harus punya perjalanan. Terkadang, diam di tempat dan menanti adalah perjalanan itu sendiri. Memandangi dan memahami adalah kisahnya, sedangkan melepaskan dan melupakan adalah bagian terindah dari ceritanya.
Terkadang perjalanan diam itu melelahkan. Padahal tak seorangpun beranjak. Namun seisi dunia seakan melaju, dan hanya kau dan dia yang diam di tempat, tak saling mendekat, tapi juga tak saling menjauh. Di jarak yang biasa, jarak yang cukup untuk kau memandanginya, namun jarak yang cukup jauh untuk kau menggapainya.
Ada kalanya kita tahu bahwa ada cinta yang harus diakhiri tanpa dimulai. Akhirannya adalah perjalanannya sendiri.
Terkadang perjalanan diam itu melelahkan. Padahal tak seorangpun beranjak. Namun seisi dunia seakan melaju, dan hanya kau dan dia yang diam di tempat, tak saling mendekat, tapi juga tak saling menjauh. Di jarak yang biasa, jarak yang cukup untuk kau memandanginya, namun jarak yang cukup jauh untuk kau menggapainya.
Ada kalanya kita tahu bahwa ada cinta yang harus diakhiri tanpa dimulai. Akhirannya adalah perjalanannya sendiri.
Label:
100
tigaenam
Aku takut. Ketika aku kembali, bumi tanah ini sudah berevolusi entah beberapa kali. Tidak akan ada yang sama. Semuanya berubah, terseret waktu. Aku pun akan berubah, tak akan pernah pulang dengan menjadi aku yang sama seperti kupergi. Aku akan tetap menemukan seorang jedral memberi hormat tanpa lelah, tapi aku tak yakin setiap orang di kota ini akan sama. Menantiku pulang.
Lebih takut lagi, kalau nanti aku merindukan diriku yang sekarang dan aku tak bisa menemukannya. Mau kutanya pada siapa lagi kalau diriku saja tak kutemukan, kalau ia berubah dan tak dapat dikenali. Menurutmu, akankah si Jendral Menghormat masih akan mengenaliku?
Berlanjut : Jangan Lupakan Aku ya, Jendral!
Lebih takut lagi, kalau nanti aku merindukan diriku yang sekarang dan aku tak bisa menemukannya. Mau kutanya pada siapa lagi kalau diriku saja tak kutemukan, kalau ia berubah dan tak dapat dikenali. Menurutmu, akankah si Jendral Menghormat masih akan mengenaliku?
Berlanjut : Jangan Lupakan Aku ya, Jendral!
Label:
100
tigalima
At the very bottom of everything. Film festival itu bercerita tentang pergulatan seorang pesakitan, manic depression. Yang merasa jatuh ke dasar dan digerogoti oleh penyakitnya. Pilihannya hanya dua, diam dalam dasar yang mematikan atau mencoba mendaki dengan resiko jatuh lebih keras.
Ia bercerita tentang fajar dan senja yang membuat kita merasa aman. Membuat segala sesuatu beraturan, karena kita tahu segalanya akan kembali ke asalnya. Kita punya waktu untuk memperbaiki, untuk menyiapkan awal yang baru, besok ketika fajar datang. Bagi seorang yang berada di dasar, tak ada senja, tak ada fajar, tak ada antara, tak ada yang harus dimulai dan diperbaiki.
Ia bercerita tentang fajar dan senja yang membuat kita merasa aman. Membuat segala sesuatu beraturan, karena kita tahu segalanya akan kembali ke asalnya. Kita punya waktu untuk memperbaiki, untuk menyiapkan awal yang baru, besok ketika fajar datang. Bagi seorang yang berada di dasar, tak ada senja, tak ada fajar, tak ada antara, tak ada yang harus dimulai dan diperbaiki.
Label:
100
tigaempat
Titipkan salamku pada angin, naikan ke kereta biar sampainya cepat, ya yang murah saja tanpa nomor bangku biar ia melihat banyak hal. Biar salamku melihat-lihat jurang-jurang disampingnya. Biar ia singgah di antara rumah penduduk kumuh di pinggir rel, melihat-lihat kehidupan yang belum pernah dicicipinya. Ajarkan salamku untuk berbagi tempat duduk pada ibu yang membawa anak kecil dan berbagi sandaran pada nenek yang tergopoh.
Ketika sampai, suruh ia menolong kakek yang kesulitan membawa barang. Lalu ajarkan dia naik angkot mengelilingi kota kembang. Ajak ia makan cireng,dan mencicipi bajigur. Lalu antarkan dia kepadanya. Salam rindu untuk seseorang yang telah direnggut kota itu.
Ketika sampai, suruh ia menolong kakek yang kesulitan membawa barang. Lalu ajarkan dia naik angkot mengelilingi kota kembang. Ajak ia makan cireng,dan mencicipi bajigur. Lalu antarkan dia kepadanya. Salam rindu untuk seseorang yang telah direnggut kota itu.
Label:
100
tigatiga
Masih ingatkah kamu,
Ketika bulan menjadi malu kau sanjung-sanjung?
Ketika kau bersenandung tentang bentuk awan?
Ketika kau mencuri kecupan dibawah bintang?
Ketika bilang sayang di kegelapan jalan?
Ketika kau mencari jawabku di kebisingan lalu lintas?
Ketika kau menggenggamku dibawah bulan?
Ketika jari-jari kita mempunyai mata dan senyum, menari-nari berdua?
Ketika pasukan semut merah menyerang kakiku?
Ketika menikmati makanan cireng kesukaanku?
Ketika menjanjikan seribu hitungan untukku seorang?
Ketika kau menanyakan pendapatku tentang Descartes?
Ketika kau menceritakanku dunia di masa depan, mimpi-mimpi kita?
Ketika kau mengajarku cara menumis kangkung?
Ketika kau muncul di depan pintu kayu rumahku?
Ketika kamu menyayangiku?
Aku masih.
Ketika bulan menjadi malu kau sanjung-sanjung?
Ketika kau bersenandung tentang bentuk awan?
Ketika kau mencuri kecupan dibawah bintang?
Ketika bilang sayang di kegelapan jalan?
Ketika kau mencari jawabku di kebisingan lalu lintas?
Ketika kau menggenggamku dibawah bulan?
Ketika jari-jari kita mempunyai mata dan senyum, menari-nari berdua?
Ketika pasukan semut merah menyerang kakiku?
Ketika menikmati makanan cireng kesukaanku?
Ketika menjanjikan seribu hitungan untukku seorang?
Ketika kau menanyakan pendapatku tentang Descartes?
Ketika kau menceritakanku dunia di masa depan, mimpi-mimpi kita?
Ketika kau mengajarku cara menumis kangkung?
Ketika kau muncul di depan pintu kayu rumahku?
Ketika kamu menyayangiku?
Aku masih.
Label:
100
Jumat, 02 April 2010
tigadua
‘Siapa yang paling kaya di kelas ini?’ tanya temanku pada sebuah kelas sore.
‘Si A tuh Si A duitnya milyaran kali’ sahutnya.
Lalu pembicaraan makin memanaskan telingaku,
‘Harga rumah lo berapa?’ tanya yang lain. Aku berusaha mengerjakan soal matematika sambil mengabaikan pembicaraan itu.
‘Nah berarti elo lebih kaya!’ pekik seorang lagi.
Aku menengok gusar, ‘Tau nggak siapa paling kaya di seluruh gedung ini?’ tanyaku.
‘Siapa?’ tanya mereka.
‘Aku. Karena aku punya ibu yang berharga lebih dari apapun di dunia ini dan adik yang sangat menyebalkan yang enggak akan mau kalian beli pake sugus sekalipun’
Aku kembali pada soal. Kelas hening.
‘Si A tuh Si A duitnya milyaran kali’ sahutnya.
Lalu pembicaraan makin memanaskan telingaku,
‘Harga rumah lo berapa?’ tanya yang lain. Aku berusaha mengerjakan soal matematika sambil mengabaikan pembicaraan itu.
‘Nah berarti elo lebih kaya!’ pekik seorang lagi.
Aku menengok gusar, ‘Tau nggak siapa paling kaya di seluruh gedung ini?’ tanyaku.
‘Siapa?’ tanya mereka.
‘Aku. Karena aku punya ibu yang berharga lebih dari apapun di dunia ini dan adik yang sangat menyebalkan yang enggak akan mau kalian beli pake sugus sekalipun’
Aku kembali pada soal. Kelas hening.
Label:
100
tigasatu
Remember Me mengingatkanku pada sebuah pepatah lama yang sering didengar, namun jarang dihayati.
‘Live in the Moments’
Karena kita tak akan pernah hidup di saat yang sama lagi. Hidup kita berjalan maju dan tak ada cara untuk kembali. Segala hal kecil yang kita lakukan mungkin tak berarti, tapi itu penting untuk kita lakukan. Setiap manusia adalah maestro dan hidup adalah karya agungnya, sebuah seni yang terus berproses. Ketika kita bicara, kita menorehkan kuas pada lukisan maestro lain. Kehidupan adalah bingkai lukisan yang menyatu satu sama lain. Kita tak akan pernah dapat menghapus sidik jari dari kehidupan yang pernah kita sentuh.
‘Live in the Moments’
Karena kita tak akan pernah hidup di saat yang sama lagi. Hidup kita berjalan maju dan tak ada cara untuk kembali. Segala hal kecil yang kita lakukan mungkin tak berarti, tapi itu penting untuk kita lakukan. Setiap manusia adalah maestro dan hidup adalah karya agungnya, sebuah seni yang terus berproses. Ketika kita bicara, kita menorehkan kuas pada lukisan maestro lain. Kehidupan adalah bingkai lukisan yang menyatu satu sama lain. Kita tak akan pernah dapat menghapus sidik jari dari kehidupan yang pernah kita sentuh.
Label:
100
tigapuluh
Sebagian percaya bahwa pencarian dimulai dari keheningan di bawah sebuah pohon. Sebagian lagi percaya bahwa ia sembunyi dalam batu-batu yang diukir indah. Sebagian percaya bahwa ia telah datang, mati dan bangkit lagi. Sebagian lagi percaya akan menemukannya dalam tekur dan sembah.
Aku tak tahu apa lagi yang kucari. Seseorang pernah menanyakanku ketika sebuah wacana abstrak muncul di antara kami. ‘Sudah dicari belum?’ Tanyanya.
Aku menjawab sederhana, ‘Sudah’.
Sebenarnya aku punya jawaban yang lebih baik dari itu. ‘Aku tidak mencarinya, tapi aku tahu dari sebelum aku bernapas dengan jantungku sendiri bahwa ia tinggal berada tepat di dadaku dan belum pernah pergi.
Aku tak tahu apa lagi yang kucari. Seseorang pernah menanyakanku ketika sebuah wacana abstrak muncul di antara kami. ‘Sudah dicari belum?’ Tanyanya.
Aku menjawab sederhana, ‘Sudah’.
Sebenarnya aku punya jawaban yang lebih baik dari itu. ‘Aku tidak mencarinya, tapi aku tahu dari sebelum aku bernapas dengan jantungku sendiri bahwa ia tinggal berada tepat di dadaku dan belum pernah pergi.
Label:
100
duasembilan
Aku jadi berpikir,
Kalau seandainya tidak kulakukan hal itu. Segalanya akan jadi baik-baik saja. Kau akan tetap disini, disisiku, menggelitik langit bersamaku.
Kalau aku tidak memilih untuk pergi, hari ini kita akan duduk di bangku panjang, menikmati bakso kesukaanku. Tertawa-tawa membahas hari-hari berat kemarin, yang kita lalui dengan berat. Gembira menunggu seragam yang akan segera lepas.
Seandainya aku tidak terlalu berpikiran sederhana, kau akan tersenyum padaku, kita melukis pelangi sambil bermain arti-arti awan.
Jika aku cukup cerdas untuk bersikap, kita akan sama-sama duduk dibawah mentari. Merayakan bersama.
Andai saja aku lebih sedikit berpikir, semuanya akan baik-baik saja. Tanpa perlu kusesali.
Kalau seandainya tidak kulakukan hal itu. Segalanya akan jadi baik-baik saja. Kau akan tetap disini, disisiku, menggelitik langit bersamaku.
Kalau aku tidak memilih untuk pergi, hari ini kita akan duduk di bangku panjang, menikmati bakso kesukaanku. Tertawa-tawa membahas hari-hari berat kemarin, yang kita lalui dengan berat. Gembira menunggu seragam yang akan segera lepas.
Seandainya aku tidak terlalu berpikiran sederhana, kau akan tersenyum padaku, kita melukis pelangi sambil bermain arti-arti awan.
Jika aku cukup cerdas untuk bersikap, kita akan sama-sama duduk dibawah mentari. Merayakan bersama.
Andai saja aku lebih sedikit berpikir, semuanya akan baik-baik saja. Tanpa perlu kusesali.
Label:
100
duadelapan
Setelah kelelahan les dua bahasa dan belajar. Aku minta pada Doraemon-ku yang duduk diatas rak warna merah. ‘Keluarkan alat pelambat waktu. Aku butuh beberapa jam lagi dalam sehari.’ Si Doraemon itu bergeming, dengan senyum lebar menatapku menjauh, kesal.
Suatu kali lagi ketika sedang patah hati, aku bilang ‘Keluarkan alat pencepat waktu. Aku ingin cepat-cepat bulan Agustus. Aku lelah.’ Si Doraemon tetap menyengir . Aku pun pergi lagi dengan kesal.
Lalu aku datang lagi pada Doraemon-ku. ‘Aku minta alat untuk menikmati waktu. Aku sedang kesal’. Dari kantong ajaibnya, dikeluarkannya selembar kertas dan pena. ‘Alat untuk Menikmati Waktu’ Katanya dengan suara sember.
Suatu kali lagi ketika sedang patah hati, aku bilang ‘Keluarkan alat pencepat waktu. Aku ingin cepat-cepat bulan Agustus. Aku lelah.’ Si Doraemon tetap menyengir . Aku pun pergi lagi dengan kesal.
Lalu aku datang lagi pada Doraemon-ku. ‘Aku minta alat untuk menikmati waktu. Aku sedang kesal’. Dari kantong ajaibnya, dikeluarkannya selembar kertas dan pena. ‘Alat untuk Menikmati Waktu’ Katanya dengan suara sember.
Label:
100
duatujuh
Aku heran juga menemukan seorang gadis duduk tegak di antara kursi kayu yang kaku, tangannya fasih mencoret-coret. Kukira ia akan menunduk terkantuk-kantuk. Padahal pembicaraan yang sedang didengarkannya tidaklah mudah. Filsafat Tubuh menurut Planton, judul di pintu ruang kuliah itu. Asing dengan pakaian warna-warni di antara pakaian tua di baris lainnya.
Dia mengetuk jendela kaca. ‘Pak, saya boleh ikutan kelas itu enggak?’
‘Semester barunya bulan Juli.’
‘Tapi saya ngga bisa ikut bulan Juli.’
‘Kamu kuliah dimana? Semester berapa sih?’
‘Belum mulai’
‘Enggak bisa’.
Ia pun beranjak.
Memakai tas dan gelang warna-warni, bukan artinya belum bisa berpikir seberat bapak-bapak di kursi sana.
Dia mengetuk jendela kaca. ‘Pak, saya boleh ikutan kelas itu enggak?’
‘Semester barunya bulan Juli.’
‘Tapi saya ngga bisa ikut bulan Juli.’
‘Kamu kuliah dimana? Semester berapa sih?’
‘Belum mulai’
‘Enggak bisa’.
Ia pun beranjak.
Memakai tas dan gelang warna-warni, bukan artinya belum bisa berpikir seberat bapak-bapak di kursi sana.
Label:
100
Minggu, 28 Maret 2010
duaenam
Katanya sih hutan bakau. Lebih tepatnya karpet di tengah-tengah istana. Sekelilingnya rumah menjulang tinggi. Rasanya tidak melebih-lebihkan dibilang istana, toh rupanya betul meniru US Capitol atau istana megah dengan pilar-pilar. Siapa yang tinggal dalamnya? Pembantu dan dua anak.
Aku jalan menyusuri kanopi-kanopi yang rindang. Sungguh janggal rasanya pemandangan, tak begitu jauh, gedung-gedung bertingkat dan plang iklan jalan mendominasi. Si hijau ini rupanya berjuang keras untuk hidup, bertahan di antara serdadu istana yang menghimpit.
Jangan heran kalau berniat datang. Gerbang lahan hijau ini hanya serupa halte busway.Tak ada lahan parkir, seberangnya area komersil. Aku terhela, begitulah nasib si hijau yang kesepian.
Aku jalan menyusuri kanopi-kanopi yang rindang. Sungguh janggal rasanya pemandangan, tak begitu jauh, gedung-gedung bertingkat dan plang iklan jalan mendominasi. Si hijau ini rupanya berjuang keras untuk hidup, bertahan di antara serdadu istana yang menghimpit.
Jangan heran kalau berniat datang. Gerbang lahan hijau ini hanya serupa halte busway.Tak ada lahan parkir, seberangnya area komersil. Aku terhela, begitulah nasib si hijau yang kesepian.
Label:
100
dualima
Entah setelah berapa lama, aku mengeluarkan butir-butir merah yang biasanya bedebu dalam kotak kaca. Menggenggamnya kuat-kuat di dalam telapak tangan yang berkeringat di balik bantal. Aku meringkuk dalam selimutku yang umurnya lebih muda hanya 4 tahun dariku. Menutupi kepala hingga ujung kaki. Aku mencoba mengingat dan melantunkan doa yang telah kudaraskan sejak usiaku 4 tahun. Tapi kutemukan, aku terbata-bata. Mencari kata-kata yang lupa.
Entah setelah berapa lama, tubuhku yang tegang mulai melemas. Sambil masih berbisik-bisik dalam selimut aku mulai tenang. Awan kelabu yang membungkus mulai menyingkir. Aku tertidur dalam bisik-bisik yang menenangkan.
Sore itu, dalam bulir-bulir yang kugenggam, aku berdoa.
Entah setelah berapa lama, tubuhku yang tegang mulai melemas. Sambil masih berbisik-bisik dalam selimut aku mulai tenang. Awan kelabu yang membungkus mulai menyingkir. Aku tertidur dalam bisik-bisik yang menenangkan.
Sore itu, dalam bulir-bulir yang kugenggam, aku berdoa.
Label:
100
duaempat
Terakhir kali kuingat, aku dikeliling orang-orang yang kusayangi. Aku ingat malam-malam itu, mengendap-endap naik ke atas kamarmu, kikik-kikik tertahan dari gadis-gadis di belakangku.
Aku ingat wajahmu ketika menerima kotak itu. Isinya celana dalam berenda cantik berwarna ungu, warna kesukaanmu. Ditempel dengan rapih dengan tulisan warna warni. Aku ingat ketika dengan gelak tawa kita menertawai hadiah gila itu. Kotak celana dalam dewasa dengan sebungkus kondom belum dipakai. Kami bilang ‘Kini kau telah dewasa, kawan!’
Aku kaget ketika pesan oranye berkelap-kelip sore ini mengingatkanku bahwa minggu depan hari itu terulang lagi. Aku baru sadar, betapa waktu memisahkan kita. Kita semua, begitu jauh.
Aku ingat wajahmu ketika menerima kotak itu. Isinya celana dalam berenda cantik berwarna ungu, warna kesukaanmu. Ditempel dengan rapih dengan tulisan warna warni. Aku ingat ketika dengan gelak tawa kita menertawai hadiah gila itu. Kotak celana dalam dewasa dengan sebungkus kondom belum dipakai. Kami bilang ‘Kini kau telah dewasa, kawan!’
Aku kaget ketika pesan oranye berkelap-kelip sore ini mengingatkanku bahwa minggu depan hari itu terulang lagi. Aku baru sadar, betapa waktu memisahkan kita. Kita semua, begitu jauh.
Label:
100
Rabu, 24 Maret 2010
duatiga
‘Kau takut?’
‘Tidak’
‘Lalu?’
‘Hanya...’
‘Kau telah berjanji’
‘Ya, aku ingat’
‘Janjimu...’
‘Tak seorang pun boleh memecahkannya lagi’
‘Bukan’
‘Bukan? Lantas?’
‘Seandainya pun pecah, kamu akan berhenti menangis dan bangun’
‘Ohiya, itu juga’
‘Nah sudah ingat’
‘Iya aku ingat’
‘Jadi?’
‘Jadi apa?’
‘Kamu takut?’
‘Aku takut, takut sekali. Aku yakin aku bisa bangun. Tapi aku tahu rasanya pecah itu tak enak dan aku ketakutan’
‘Takut apa? Takut sendirian?’
‘Bukan’
‘Lalu?’
‘Takut kesepian’
‘Kau bercanda’
‘Aku sungguh-sungguh’
‘Kau bukan kau yang kukenal’
‘Kau hanya memandangku dari kaca, bagaimana kau kenal?’
‘Kalau begitu pecahkan kaca ini, bergabunglah bersamaku, abadi dalamku, Sang Waktu’
‘Tidak’
‘Lalu?’
‘Hanya...’
‘Kau telah berjanji’
‘Ya, aku ingat’
‘Janjimu...’
‘Tak seorang pun boleh memecahkannya lagi’
‘Bukan’
‘Bukan? Lantas?’
‘Seandainya pun pecah, kamu akan berhenti menangis dan bangun’
‘Ohiya, itu juga’
‘Nah sudah ingat’
‘Iya aku ingat’
‘Jadi?’
‘Jadi apa?’
‘Kamu takut?’
‘Aku takut, takut sekali. Aku yakin aku bisa bangun. Tapi aku tahu rasanya pecah itu tak enak dan aku ketakutan’
‘Takut apa? Takut sendirian?’
‘Bukan’
‘Lalu?’
‘Takut kesepian’
‘Kau bercanda’
‘Aku sungguh-sungguh’
‘Kau bukan kau yang kukenal’
‘Kau hanya memandangku dari kaca, bagaimana kau kenal?’
‘Kalau begitu pecahkan kaca ini, bergabunglah bersamaku, abadi dalamku, Sang Waktu’
Label:
100
duadua
Kini saatnya aku bicara. Entah kepada hati atau logika yang memenjarakanmu. Kau mau kejujuran, sayang? Aku tahu dimana yang salah, aku tahu bagian mana yang patah, hanya saja aku tak mungkin membawamu. Kau terjebak dalam intuisimu sendiri, kau merasa dengan keperempuananmu, berpikir pula dengan itu, begitu juga dengan segala spekulasi konyol dalam kepalamu itu. Kau pun mencinta denganya.
Kau sering bertanya padaku di cermin, ‘Bawa aku pada jalannya, Waktu’, dan aku selalu menjawab jalannya ada di depan matamu yang buta. Kau lalu tersedu, patah hati katamu. Sambil mengusapmu aku bilang, ‘Biar aku yang sembuhkan. Hanya aku yang bisa sembuhkan, sayang’.
Kau sering bertanya padaku di cermin, ‘Bawa aku pada jalannya, Waktu’, dan aku selalu menjawab jalannya ada di depan matamu yang buta. Kau lalu tersedu, patah hati katamu. Sambil mengusapmu aku bilang, ‘Biar aku yang sembuhkan. Hanya aku yang bisa sembuhkan, sayang’.
Label:
100
Senin, 22 Maret 2010
duasatu
Pada kelas bahasa Inggris untuk akademis pagi ini, kami menonton dokumenter riset singkat tentang kesadaran perilaku berdasarkan gender dalam perkembangan anak-anak.
Anak-anak lucu dari usia 1 tahun, 3-4 tahun, 7 tahun dan 11 tahun ditanya tentang lawan jenisnya. Mengejutkan, ternyata perbedaan perilaku yang kita dapatkan berdasarkan gender telah terjadi sejak kita dalam kandungan. Gender pada dasarnya adalah label, seperti nama. Tak terlalu berpengaruh apakah kau Rani, Rina atau Rini. Tapi itulah yang melekat.
Jadi mengenai masalah keseteraan gender yang dari kemarin sedang ribut diperbincangkan. Menonton video ini aku jadi sadar. Gender adalah hasil dari labelling customary, budaya berperilaku dan memperlakukan.
Anak-anak lucu dari usia 1 tahun, 3-4 tahun, 7 tahun dan 11 tahun ditanya tentang lawan jenisnya. Mengejutkan, ternyata perbedaan perilaku yang kita dapatkan berdasarkan gender telah terjadi sejak kita dalam kandungan. Gender pada dasarnya adalah label, seperti nama. Tak terlalu berpengaruh apakah kau Rani, Rina atau Rini. Tapi itulah yang melekat.
Jadi mengenai masalah keseteraan gender yang dari kemarin sedang ribut diperbincangkan. Menonton video ini aku jadi sadar. Gender adalah hasil dari labelling customary, budaya berperilaku dan memperlakukan.
Label:
100
Minggu, 21 Maret 2010
duapuluh
Pada pesta pernikahan rekan ibuku, aku harus berdiri diatas hak setinggi 10 centimeter selama beberapa jam. Kalau kakiku bisa bicara, pastilah kakiku akan berteriak-teriak tak karuan.
Bayangkan, kakiku yang lebar bentuknya harus dijejalkan rapat dalam selop sempit berkulit putih. Kakiku yang malang harus menahan berat tubuhku, bertumpu menjijit pada sebuah ruas telapak kaki yang kecil.
Aku takjub pada perempuan-perempuan yang dengan mudahnya berdiri anggun diatas stileto-stileto neraka itu. Ibuku bilang ‘Belum lulus jadi wanita kalau belum bisa lari diatas high heels’
I think, i wasnt born to stand on high heels, but i believe i was born to stand out.
Bayangkan, kakiku yang lebar bentuknya harus dijejalkan rapat dalam selop sempit berkulit putih. Kakiku yang malang harus menahan berat tubuhku, bertumpu menjijit pada sebuah ruas telapak kaki yang kecil.
Aku takjub pada perempuan-perempuan yang dengan mudahnya berdiri anggun diatas stileto-stileto neraka itu. Ibuku bilang ‘Belum lulus jadi wanita kalau belum bisa lari diatas high heels’
I think, i wasnt born to stand on high heels, but i believe i was born to stand out.
Label:
100
sembilanbelas
Imagine no possessions
I wonder if you can
Kunyanyikan lagu itu untuk seorang teman baru dan kepada semua orang yang pernah berpikiran sama terhadapku.
Aku benci dinilai karena apa yang kumiliki. Aku benci dihakimi karena apa yang dapat kunikmati.
‘I owned nothing, arent we all?’ jawabku.
Bukankah semua dari kita hanya terjebak pada dunia temporari dengan pandangan artifisial? Bukankah kita bernilai atas apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan apa yang kita punya? Bukankah dunia yang ingin kau ubah, akan menjadi lebih baik bila hal itu dimulai dari kepalamu, bahwa kita semua sama. Tanpa satupun lebih tinggi dari yang lain.
I wonder if you can
Kunyanyikan lagu itu untuk seorang teman baru dan kepada semua orang yang pernah berpikiran sama terhadapku.
Aku benci dinilai karena apa yang kumiliki. Aku benci dihakimi karena apa yang dapat kunikmati.
‘I owned nothing, arent we all?’ jawabku.
Bukankah semua dari kita hanya terjebak pada dunia temporari dengan pandangan artifisial? Bukankah kita bernilai atas apa yang kita pikirkan, bukan berdasarkan apa yang kita punya? Bukankah dunia yang ingin kau ubah, akan menjadi lebih baik bila hal itu dimulai dari kepalamu, bahwa kita semua sama. Tanpa satupun lebih tinggi dari yang lain.
Label:
100
delapanbelas
Ketika sedang beres-beres kamar, aku menemukan sebuah folder biru, tumpah ruah dengan kertas-kertas aneka ragam. Tulisan corat-coret, ada juga tulisan di selembar tissue dapur. Tulisan-tulisanku ketika kecil dulu. Aku menulis sejak bisa menulis dengan pensil, kutempel di dinding kamar yang warnanya ungu.
Waktu kecil, aku menulis apa saja yang kulihat dan kurasa. Aku sering cerita pada boneka-bonekaku, aku berceloteh pada teman-teman dan ayahku. Ketika besar, aku tidak lagi banyak bercerita walaupun aku melihat, mendengar, dan lebih banyak lagi berpikir. Tapi aku lupa caranya menulis...
Membaca tulisan anak-anak itu membuatku rindu lagi menggenggam pena dan menulis sejujur aku kecil yang berceloteh.
Waktu kecil, aku menulis apa saja yang kulihat dan kurasa. Aku sering cerita pada boneka-bonekaku, aku berceloteh pada teman-teman dan ayahku. Ketika besar, aku tidak lagi banyak bercerita walaupun aku melihat, mendengar, dan lebih banyak lagi berpikir. Tapi aku lupa caranya menulis...
Membaca tulisan anak-anak itu membuatku rindu lagi menggenggam pena dan menulis sejujur aku kecil yang berceloteh.
Label:
100
tujuhbelas
Dari kecil ayahku membelikanku banyak buku bacaan yang selalu diceritakannya sebelum tidur. Kami tidak berkelimpahan saat itu. Tapi ayahku memaksa menyicil kredit untuk membeli satu set ensiklopedia ‘Mengapa Begini Mengapa Begitu’.
Buku-buku lain tentang putri-putri, sebagian dalam bahasa Inggris. Ada sebuah cerita yang kubaca ratusan kali. Judulnya ‘Tuan dan Nyonya Cuka’ kisahnya tentang para kurcaci yang tinggal dalam botol, bekas botol cuka. Aku sering berkhayal tinggal dalam botol, pasti sempit sekali tapi pasti menyenangkan karena pasti hening dan tenang.
Mungkin nanti, kalau aku punya putri aku akan ajak ia mengkhayal untuk tinggal dalam botol bersama Tuan dan Nyonya Cuka.
Buku-buku lain tentang putri-putri, sebagian dalam bahasa Inggris. Ada sebuah cerita yang kubaca ratusan kali. Judulnya ‘Tuan dan Nyonya Cuka’ kisahnya tentang para kurcaci yang tinggal dalam botol, bekas botol cuka. Aku sering berkhayal tinggal dalam botol, pasti sempit sekali tapi pasti menyenangkan karena pasti hening dan tenang.
Mungkin nanti, kalau aku punya putri aku akan ajak ia mengkhayal untuk tinggal dalam botol bersama Tuan dan Nyonya Cuka.
Label:
100
Rabu, 17 Maret 2010
enambelas
‘itu namanya pergeseran makna nasionalisme. Masa senin tanpa upacara, dulu aku selalu jadi petugas upacara lho.’ Kata seorang sahabatku di terik matahari.
‘Aku juga.. tapi tidak tiap senin’ sahutku
‘Dari SD begitu’
‘Aku malah dari TK, jadi itu tuh.. apa..’ kataku sambil mengayunkan tangan ke depan seolah memimpin lagu.
‘Oh.. dirigen.. eh dirijen...’
‘Hahahaha.. dirigen mah Rinso.’ Tawaku
‘Dirigen tuh minyak.. hahah dirijen maksunya’ katanya ikut tertawa
Setelah jalan beberapa meter ke depan....
‘HAH? Rinso mah detergen!’ salaknya tiba-tiba padaku.
‘Ohiya ya? Kataku polos.
‘Dasar dodol... Gimana mau belajar banyak bahasa? Bahasa Indonesia aja susah’
‘Keselip dikit’ kataku sambil meringis.
‘Aku juga.. tapi tidak tiap senin’ sahutku
‘Dari SD begitu’
‘Aku malah dari TK, jadi itu tuh.. apa..’ kataku sambil mengayunkan tangan ke depan seolah memimpin lagu.
‘Oh.. dirigen.. eh dirijen...’
‘Hahahaha.. dirigen mah Rinso.’ Tawaku
‘Dirigen tuh minyak.. hahah dirijen maksunya’ katanya ikut tertawa
Setelah jalan beberapa meter ke depan....
‘HAH? Rinso mah detergen!’ salaknya tiba-tiba padaku.
‘Ohiya ya? Kataku polos.
‘Dasar dodol... Gimana mau belajar banyak bahasa? Bahasa Indonesia aja susah’
‘Keselip dikit’ kataku sambil meringis.
Label:
100
limabelas
Ada apa dengan perempuan? Aku berkaca pada cermin yang memberiku jawaban datar ‘Kau seroang perempuan’. Aku membalas ‘Aku tahu, lalu?’. Cermin pun termangu.
Kadang aku bertanya, mengapa tuhan yang maha adil memberikan sedikit lebih banyak lekukan di tubuh manusia tanpa penis ketimbang yang memilikinya. Mengapa membagi tenaga dan kekuatan sedikit lebih sedikit ketimbang pria. Mengapa membuatnya lebih cantik daripada makhluk yang lain.
‘Itu semua cuma konstruksi pasar aja. Feminisme itu perjuangan kelas’ Kata seorang wanita yang sedang kutatapi.
Oh, kalau begitu, kataku pada cermin lagi. Tak ada yang salah dengan keperempuananku. Aku hanya diberkahi sedikit lebih banyak dan sedikit lebih sedikit, seperti semua yang lain. Itu saja.
Kadang aku bertanya, mengapa tuhan yang maha adil memberikan sedikit lebih banyak lekukan di tubuh manusia tanpa penis ketimbang yang memilikinya. Mengapa membagi tenaga dan kekuatan sedikit lebih sedikit ketimbang pria. Mengapa membuatnya lebih cantik daripada makhluk yang lain.
‘Itu semua cuma konstruksi pasar aja. Feminisme itu perjuangan kelas’ Kata seorang wanita yang sedang kutatapi.
Oh, kalau begitu, kataku pada cermin lagi. Tak ada yang salah dengan keperempuananku. Aku hanya diberkahi sedikit lebih banyak dan sedikit lebih sedikit, seperti semua yang lain. Itu saja.
Label:
100
Senin, 15 Maret 2010
empatbelas
Aku menemukan diriku terpisah dari yang lain. Memberontak dari sistem, aku bilang di depan kelas 'ini bukan ilmu, kan Pak? Bukan kan?' pada seorang guru yang menyuruhku tunduk.
Aku menemukan diriku berbeda, 'Untuk apa ilmu ini?' tuntutku pada guruku di kelas yang menyuruhku menghafal ini dan itu. Beliau bilang 'hafalkan saja dalam kepalamu yang bebal itu'. Aku bilang 'Buat apa kalau tak ada fungsinya'.
Aku menemukan diriku menuntut jawab, guruku bilang 'Nak, tidak bisakah kau seperti anak-anak yang lain? Ikuti saja sistem ini. Sudah terbukti puluhan tahun dari jaman bapakmu. Nah sekarang bapakmu bisa menyekolahkanmu kan? Berarti sistemnya berhasil'
Aku bilang, ' Bu, aku berhenti sekolah'.
Aku menemukan diriku berbeda, 'Untuk apa ilmu ini?' tuntutku pada guruku di kelas yang menyuruhku menghafal ini dan itu. Beliau bilang 'hafalkan saja dalam kepalamu yang bebal itu'. Aku bilang 'Buat apa kalau tak ada fungsinya'.
Aku menemukan diriku menuntut jawab, guruku bilang 'Nak, tidak bisakah kau seperti anak-anak yang lain? Ikuti saja sistem ini. Sudah terbukti puluhan tahun dari jaman bapakmu. Nah sekarang bapakmu bisa menyekolahkanmu kan? Berarti sistemnya berhasil'
Aku bilang, ' Bu, aku berhenti sekolah'.
Label:
100
Minggu, 14 Maret 2010
tigabelas
Aku senang hari minggu yang penuh cerita. Hari minggu adalah satu-satunya hari dimana aku dapat melewatkan makan siang dengan Ibuku. Hari satu-satunya dalam seminggu di mana aku dapat benar-benar 'melihatnya'. Satu-satunya hari di mana aku benar-benar memilikinya.
Hari minggu selalu penuh celoteh, di antara makan siang tanpa diet dan makanan pencuci mulut yang kutunggu-tunggu. Aku akan cerita tentang celoteh-celotehku yang kutahan selama enam hari sebelumnya. Dan ia juga akan berbagi tentang berbagai ketegangan yang terjadi selama seminggu.
Hari minggu, hari berbagi. Di antara hari-hari dingin yang lain, di hari Minggu aku menemukan kehangatannya kembali.
Hari minggu selalu penuh celoteh, di antara makan siang tanpa diet dan makanan pencuci mulut yang kutunggu-tunggu. Aku akan cerita tentang celoteh-celotehku yang kutahan selama enam hari sebelumnya. Dan ia juga akan berbagi tentang berbagai ketegangan yang terjadi selama seminggu.
Hari minggu, hari berbagi. Di antara hari-hari dingin yang lain, di hari Minggu aku menemukan kehangatannya kembali.
Label:
100
Sabtu, 13 Maret 2010
duabelas
Aku sering bertanya-tanya, apa yang dipikirkan orang-orang di meja samping yang melihat meja makan kami. Seorang bocah sibuk main PSP, kakak yang melamun ke arah jalanan , seorang ayah yang tak berhenti menekuni Blackberry-nya dan sebatang lilin yang meleleh dalam kesunyian di tengah meja makan keluarga kami malam minggu.
Kursi di meja makan keluargaku selalu hanya tiga. Aku heran kenapa restoran selalu menyediakan empat. Tidak tahukah mereka kalau tidak semua keluarga punya ayah, ibu dan dua anak seperti program KB pemerintah?
Meja makan seharusnya penuh celoteh katanya, tapi tidak tahukah mereka, kadang meja makan hanya perlu lilin yang membisu.
Kursi di meja makan keluargaku selalu hanya tiga. Aku heran kenapa restoran selalu menyediakan empat. Tidak tahukah mereka kalau tidak semua keluarga punya ayah, ibu dan dua anak seperti program KB pemerintah?
Meja makan seharusnya penuh celoteh katanya, tapi tidak tahukah mereka, kadang meja makan hanya perlu lilin yang membisu.
Label:
100
Jumat, 12 Maret 2010
sebelas
Tiga orang bocah berpakain kumel mengantri malu-malu pada barisan di Restoran cepat saji dekat rumahku. Aku dengar seorang dari antaranya berkata "Aduh, udah yuk.. Malu nih." Sambil meremas-remas tangannya yang memegang celengan kaleng untuk dijual. Yang satu lagi diam tapi tak beranjak.
Seorang wanita muda berpakaian sederhana menyelsaikan transaksinya di kasir sebelahku, lalu menoleh pada ketiga bocah itu tadi 'Ayo, mau duduk dimana? Di atas?'
Sambil menemani adikku makan, aku tersenyum pada perempuan itu. Salah satu gula yang masih tersisa di galaknya Kota Jakarta. Malam itu ketiga anak jalanan itu menyicip sedikit sedikit kemanisan sederhana. Aku, cukup beruntung untuk menyaksikannya.
Seorang wanita muda berpakaian sederhana menyelsaikan transaksinya di kasir sebelahku, lalu menoleh pada ketiga bocah itu tadi 'Ayo, mau duduk dimana? Di atas?'
Sambil menemani adikku makan, aku tersenyum pada perempuan itu. Salah satu gula yang masih tersisa di galaknya Kota Jakarta. Malam itu ketiga anak jalanan itu menyicip sedikit sedikit kemanisan sederhana. Aku, cukup beruntung untuk menyaksikannya.
Label:
100
sepuluh
Minggu lalu kudengar seorang anak mati tertabrak truk ketika dikejar satpolpp, sebelumnya seorang bocah digebuki sampai mati oleh oknum petugas. Berikutnya seorang bayi nyemplung ke dalam panci bakso dagangan ibunya yang ditabrak mobil satpollpp dalam razia.
Pagi tadi, seorang ibu sambil mendekap bayi berlari melintas lampu hijau
yang diterjang kuda-kuda besi. Sebagian mencoba sembunyi di balik pagar jalanan. Mereka adalah joki-joki pagi yang ketakutan ketika melihat mobil satpolpp yang garang mengintai mangsa di belakangku.
Mereka berlari kabur ke arah mobil-mobil pagi yang terburu-buru bekerja, mencari nafkah untuk perut mereka sendiri, sementara orang-orang bernyawa banyak itu,lebih ketakutan digiring petugas daripada digiring maut.
Pagi tadi, seorang ibu sambil mendekap bayi berlari melintas lampu hijau
yang diterjang kuda-kuda besi. Sebagian mencoba sembunyi di balik pagar jalanan. Mereka adalah joki-joki pagi yang ketakutan ketika melihat mobil satpolpp yang garang mengintai mangsa di belakangku.
Mereka berlari kabur ke arah mobil-mobil pagi yang terburu-buru bekerja, mencari nafkah untuk perut mereka sendiri, sementara orang-orang bernyawa banyak itu,lebih ketakutan digiring petugas daripada digiring maut.
Label:
100
Rabu, 10 Maret 2010
sembilan
Seiring waktu, aku tahu bahwa sahabat bukan tentang memakai gelang berwarna sama, teman bermain tak harus selalu seumur, lawan bicara tak harus sederajat dan teman sejati tak harus selalu bersama. Mereka bisa siapa saja, terpisah sangat jauh bahkan mungkin tak saling temu.
Seiring waktu, aku sadar bahwa teman tak selalu hitam putih, lawan jenis tak harus selalu jadi cinta dan ada kalanya banyak orang yang kita jumpai menjadi rekan secukupnya saja.
Seiring waktu aku belajar, sendirian bukan artinya kesepian dan kita tak harus selalu memaksakan diri untuk diterima, bila kita terlahir untuk berbeda.
Seiring waktu, aku berkawan dengan diriku sendiri.
Seiring waktu, aku sadar bahwa teman tak selalu hitam putih, lawan jenis tak harus selalu jadi cinta dan ada kalanya banyak orang yang kita jumpai menjadi rekan secukupnya saja.
Seiring waktu aku belajar, sendirian bukan artinya kesepian dan kita tak harus selalu memaksakan diri untuk diterima, bila kita terlahir untuk berbeda.
Seiring waktu, aku berkawan dengan diriku sendiri.
Label:
100
Selasa, 09 Maret 2010
delapan
Tadi pagi guruku menunjukan sebuah gambar jembatan besar kepada kelas. Ia bertanya, dimana jembatan itu. Celetukan-celetukan berasal dari sana-sini. “San fransisco”, “Sungai Thames”, “Brooklyn”, mereka menjawab.
Guruku yang orang asing itu tersenyum dan bilang “Sebenarnya ini di Surabaya"
Aku tersenyum kecut dalam hati. Aku duduk di antara 30 anak lainnya yang lebih lancar menggunakan bahasa Inggris dan kata-kata serapan daripada bahasa Indonesia-nya sendiri. Anak-anak yang sebagian besar dari mereka pernah sarapan di Las Vegas, tetapi belum tentu pernah melihat isi Keraton. Anak-anak khatam perdana menteri negri lain daripada presidennya sendiri. Aku dan mereka adalah salah satu produk abrasi yang harus diselamatkan, untuk bumi Indonesia.
Guruku yang orang asing itu tersenyum dan bilang “Sebenarnya ini di Surabaya"
Aku tersenyum kecut dalam hati. Aku duduk di antara 30 anak lainnya yang lebih lancar menggunakan bahasa Inggris dan kata-kata serapan daripada bahasa Indonesia-nya sendiri. Anak-anak yang sebagian besar dari mereka pernah sarapan di Las Vegas, tetapi belum tentu pernah melihat isi Keraton. Anak-anak khatam perdana menteri negri lain daripada presidennya sendiri. Aku dan mereka adalah salah satu produk abrasi yang harus diselamatkan, untuk bumi Indonesia.
Label:
100
Senin, 08 Maret 2010
tujuh
Aku merajut sejuta mimpi dalam semalam. Menguatkan fondasi dasarnya dengan banyak bincang-bincang purnama. Membangun dindingnya dengan aksara. Menghias jendelanya dengan membuka mata. Dan membiarkan atapnya dari kaca, agar mentari dapat senantiasa masuk, membaharui seisi ruangan.
Tiba-tiba suatu sore di bulan Oktober yang abu, sebuah angin puting beliung datang meniup habis jedelanya. Lalu kemudian, banjir menggerogoti tembok-temboknya. Dan gempa bumi meretakkan tiang pancangnya. Aku sendirian. Di pojok kamar yang kini telanjang, berdiri di atas lantai yang hampir goyah.
Seorang pewarna langit datang menawarkan sekeranjang kisah untuk bermimpi, memunguti reruntuhan yang berantakan.
“Bagaimana bisa kalau kau tak beranjak dari pojok itu?” tanyanya.
Tiba-tiba suatu sore di bulan Oktober yang abu, sebuah angin puting beliung datang meniup habis jedelanya. Lalu kemudian, banjir menggerogoti tembok-temboknya. Dan gempa bumi meretakkan tiang pancangnya. Aku sendirian. Di pojok kamar yang kini telanjang, berdiri di atas lantai yang hampir goyah.
Seorang pewarna langit datang menawarkan sekeranjang kisah untuk bermimpi, memunguti reruntuhan yang berantakan.
“Bagaimana bisa kalau kau tak beranjak dari pojok itu?” tanyanya.
Label:
100
Minggu, 07 Maret 2010
enam
Kegamangan, kehampaan dan tatap kosong yang tertawa-tawa di dalam kamar. Aku rindu senyum dari seorang gadis berwajah bulat yang menyandang tas punggung berat penuh buku. Aku rindu seorang gadis yang bicara cepat tanpa titik koma yang bermimpi dapat memberi makan semua anak jalanan. Aku memimpikan seorang gadis yang dapat tertawa pada bayangannya di cermin.
Aku kehilangan ia yang minggat entah kemana dan entah kapan kembali. Berusaha setengah mati mengisi lubang kosong itu dengan setumpuk film, sederet buku dan sekelompok teman-teman khayalan yang memenuhi seluruh kamar selain kekosongan itu.
“Kumohon jangan pernah cari aku, aku tak ingin kembali” katanya sebelum beranjak.
Aku kehilangan ia yang minggat entah kemana dan entah kapan kembali. Berusaha setengah mati mengisi lubang kosong itu dengan setumpuk film, sederet buku dan sekelompok teman-teman khayalan yang memenuhi seluruh kamar selain kekosongan itu.
“Kumohon jangan pernah cari aku, aku tak ingin kembali” katanya sebelum beranjak.
Label:
100
Sabtu, 06 Maret 2010
lima
Malam ini sebuah mimpi burukku menjadi nyata ditengah keceriaan meja pasta teman-temanku. Dan sebuah kegelisahan meronta-ronta begitu hebat dalam perutku. Rasa berat yang tak mau pergi, kepalaku berdesing memikirkan semua kemungkinan yang terburuk dan jiwaku yang ringkih mulai membangun satu demi satu benteng pertahanan.
Aku tahu dewasa artinya, bertanggung-jawab atas segala yang kita perbuat. Menerima akibat dan resikonya. Tapi terkadang menjadi dewasa adalah keinginan bukan kemampuan. Mungkin sudah saatnya aku harus benar-benar mampu menjadi dewasa, bukan hanya ingin. Bahwa aku, dengan segala kesadaran dan tanggung-jawab harus siap pada kemungkinan terburuk sekalipun. Karena aku telah memutuskan untuk jadi dewasa ketika melakukannya.
Aku tahu dewasa artinya, bertanggung-jawab atas segala yang kita perbuat. Menerima akibat dan resikonya. Tapi terkadang menjadi dewasa adalah keinginan bukan kemampuan. Mungkin sudah saatnya aku harus benar-benar mampu menjadi dewasa, bukan hanya ingin. Bahwa aku, dengan segala kesadaran dan tanggung-jawab harus siap pada kemungkinan terburuk sekalipun. Karena aku telah memutuskan untuk jadi dewasa ketika melakukannya.
Jumat, 05 Maret 2010
empat
Wajah kota terbaris dalam lorong yang penuh debu. Aku menutup mata, merasakan angin yang melengnggang dari pintu dan jendela yang terbuka. Berbagai suara melebur di telingaku, wajah-wajah termenung, tersenyum, terkantuk-kantuk dianjlok gerbong-gerbong yang berlari sebisa ia bisa, diusianya tidak lagi muda.
Berbagai mata saling menatap waswas, sebagian menatap menyedihkan minta dikasihani, sebagian acuh. Aku di duduk di tengah sebuah gerbong yang lampunya padam, kereta ekonomi terakhir dari ujung Jakarta, merasakan tiap rasa yang mengawang di antara keringat-keringat para pekerja, karyawan, mahasiswa dan pengemis-pengemis yang menatap menerawang pada keremangan. Ini rasa kotaku, wajah kota yang terlukis pada ular besi yang berlari.
Berbagai mata saling menatap waswas, sebagian menatap menyedihkan minta dikasihani, sebagian acuh. Aku di duduk di tengah sebuah gerbong yang lampunya padam, kereta ekonomi terakhir dari ujung Jakarta, merasakan tiap rasa yang mengawang di antara keringat-keringat para pekerja, karyawan, mahasiswa dan pengemis-pengemis yang menatap menerawang pada keremangan. Ini rasa kotaku, wajah kota yang terlukis pada ular besi yang berlari.
tiga
Bahasa membawa kita pada gerbang dunia baru. Menyatukan sinapsis-sinapsis syaraf pada otak di kepala –kepala yang berbeda. Bahasa mengungkapkan pemikiran, ide-ide, suara dan segala buah rasa kepada sesamanya. Bahasa membuat kita merasa bahwa kita tidak berdiri sendirian.
Bahasa suku kuno di daratan Mongol, di Amerika Latin daerah barat, di Afrika bagian tengah dan sebagian besar bahasa pada Papua bagian utara hampir punah. Penggunanya hanya tinggal hitungan jari. Bayangkan bahasa yang kau gunakan, hanya dimengerti satu-dua orang kawanmu saja, atau hanya dirimu seorang. Betapa sepi dunia tanpa bahasa, tanpa pengertian. Bahasa mengantar kita pada sebuah rasa yang membuat kita merasa sama.
Bahasa suku kuno di daratan Mongol, di Amerika Latin daerah barat, di Afrika bagian tengah dan sebagian besar bahasa pada Papua bagian utara hampir punah. Penggunanya hanya tinggal hitungan jari. Bayangkan bahasa yang kau gunakan, hanya dimengerti satu-dua orang kawanmu saja, atau hanya dirimu seorang. Betapa sepi dunia tanpa bahasa, tanpa pengertian. Bahasa mengantar kita pada sebuah rasa yang membuat kita merasa sama.
Rabu, 03 Maret 2010
dua
Segalanya berawal dari dari rahim seorang perempuan. Bumi kita berhutang pada tarian elok tubuh yang bersolek. Menghutang nyawa, menghutang raga. Setelahnya, para pemuka tumbuh dari buncitnya.
Perempuan adalah lambang kesuburan, tanah yang memberi dan menyusui,.Tubuhnya adalah lambang kehidupan. Dari dadanya sebuah kehidupan berawal.
Bumi sekarat, menangis terjerat asap laknat. Kembalilah pada sang ibu, perempuan yang memberikan napas, melahirkan, merawat dan mengajar. Lalu setiap dari napas baru yang akan memenuhi bumi ini akan ingat bahwa ibunya adalah seorang perempuan, buminya juga seorang ibu yang memberi dan menyusui.
Selamatkan bumi yang sekarat dengan belai kasih perempuan, sang Ibu yang memberi dan menyusui.
Perempuan adalah lambang kesuburan, tanah yang memberi dan menyusui,.Tubuhnya adalah lambang kehidupan. Dari dadanya sebuah kehidupan berawal.
Bumi sekarat, menangis terjerat asap laknat. Kembalilah pada sang ibu, perempuan yang memberikan napas, melahirkan, merawat dan mengajar. Lalu setiap dari napas baru yang akan memenuhi bumi ini akan ingat bahwa ibunya adalah seorang perempuan, buminya juga seorang ibu yang memberi dan menyusui.
Selamatkan bumi yang sekarat dengan belai kasih perempuan, sang Ibu yang memberi dan menyusui.
satu
Untuk itu kumulai dari 100. Karena aku ingat pertama kali... Suatu siang panas di pertengah tahun 90an. Aku mendengar sebuah suara yang rasanya dekat sekali dariku, bahkan rasanya dari dalam. Suara itu berteriak ‘Bunda, aku sampai seratus!’. Kali itu aku sadar, aku manusia, aku hidup, aku ada. Maka mari bersama belajar bertita lagi mendekati hitungan ke-seratus. Bukan untuk sesiapa, bukan untuk pula angka seratus yang sekarang sedang pongah. Tapi untukku sendiri dan untuk awang-awang mimpi yang di depan jalan. Mungkin dengan belajar menghitung seperti dulu lagi, aku bisa menemukan diriku lagi, menyadari lagi bahwa aku manusia, aku hidup, aku ada.
Label:
100
Langganan:
Komentar (Atom)