Aku mengambil sepatuku pagi itu dari lemari dan lalu berpikir bahwa aku tak mungkin dapat membawa entah berapa pasang sepatu itu ke tempatku akan kuliah nanti.
Aku membereskan bukuku yang berderet-deret dan berpikir, berapa kardus dan berapa koper yang kubutuhkan untuk membawa semua bukuku ini. Bahkan sederet buku yang belum kubuka bungkusnya.
Aku membuka laciku dan melihat tumpukan alat tulis yang sering kupakai irit-irit. Aku tak mungkin membawa mereka juga. Juga tas-tasku yang menumpuk dipojok kamar.
Aku tahu saat aku kembali, aku tak akan menggunakan mereka lagi. Tapi rasanya buruk. Ditinggal memang tak enak rasanya, tapi meninggalkan lebih parah lagi.
biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.
Rabu, 21 April 2010
empattiga
Tiba-tiba Jakarta menjadi kota yang menarik bagiku. Entah kenapa ia sangat menarik beberapa bulan sebelum aku harus pergi. Banyak festival film yang ingin kutonton. Banyak undangan diskusi yang sangat menarik, banyak kesempatan belajar yang ingin kuhadiri. Dan dengan begitu, aku bertemu banyak teman baru setiap harinya.
Kadang berat rasanya memikirkan bahwa semua ini harus kutinggalkan sebentar lagi. Seperti yang pernah kutulis, saat kukembali tak ada hal yang akan tetap sama lagi. Kamu pasti bilang, ‘disana akan lebih banyak lagi!’ Tapi kau belum bisa benar-benar mengatakannya sebelum berada disana kan? Dan memulai segalanya dari nol.
Everything worth when it almost gone.
Kadang berat rasanya memikirkan bahwa semua ini harus kutinggalkan sebentar lagi. Seperti yang pernah kutulis, saat kukembali tak ada hal yang akan tetap sama lagi. Kamu pasti bilang, ‘disana akan lebih banyak lagi!’ Tapi kau belum bisa benar-benar mengatakannya sebelum berada disana kan? Dan memulai segalanya dari nol.
Everything worth when it almost gone.
Label:
100
empatdua
Sore ini aku menonton film tentang pembantaian lumba-lumba. Sungguh menyayat hati melihatnya. Tapi bukan itu saja, mereka benar-benar menangis, ada adegan dimana mereka yang telah berdarah-darah berusaha mengambil napas ke permukaan air, napas terakhir, lalu hilang dalam lautan darah. Sungguh ini semua adalah ulah kerakusan manusia yang tak masuk akal.
Pembuat film itu adalah seorang pelatih lumba-lumba yang kini menjadi seorang aktivis. Ia sungguh menginspirasi! Ia ditangkap, ia membuat video itu dengan banyak resiko. Ia membuat banyak mata terpaku. Kupikir perlu banyak lagi orang seperti Ric O’Barry di dunia. Orang-orang pemberani yang mengubah dunia dengan tangannya. Nanti, aku salah satunya.
Pembuat film itu adalah seorang pelatih lumba-lumba yang kini menjadi seorang aktivis. Ia sungguh menginspirasi! Ia ditangkap, ia membuat video itu dengan banyak resiko. Ia membuat banyak mata terpaku. Kupikir perlu banyak lagi orang seperti Ric O’Barry di dunia. Orang-orang pemberani yang mengubah dunia dengan tangannya. Nanti, aku salah satunya.
Label:
100
empatsatu
Aku sedang berjalan ke arah halte di teriknya jalanan yang dinaungi palem-palem kota. Aku sering bertanya-tanya betapa kasihan pohon-pohon itu, setiap hari mereka kekenyangan karbon dioksida dan monoksida dari kendaraan, belum lagi bus-bus kota yang kentut-kentut tanpa ampun. Asapnya hitam, kasihan pengguna motor, harus menghirup udara racun itu kalau kebetulan jalan dibelakangnya.
Ke arah halte, tiba-tiba ada suara ledakan dari atas pohon. Sebuah selongsong pelepah kosong jatuh kebawah, cukup besar bila ada tertimpa. Tapi sebuah pemandangan yang tak bisa kulupakan. Dari samping aku bisa melihat, ledakan pelepah itu melemparkan serbuk sari, bibit dari pohon-pohon itu sejauh mungkin. Seperti partikel-partikel kecil yang meluncur perlahan di udara, terlalu ringan untuk langsung jatuh ke tanah.
Rombongan bibit itu jatuh di dua ruas jalan berikutnya, aku mengikuti dengan pandanganku.
Sejauh itu sang induk berusaha melemparkan anak-anaknya agar tidak tumbuh di tempat yang sama buruk dengannya. Ya, sejauh dua ruas jalan Sudirman itu sang induk bisa menyelamatkan anak-anaknya, harapannya agar mereka bisa hidup lebih baik.
Aku merenung sambil menunggui busku yang belum tampak. Pohon saja, punya naluri untuk memberikan anaknya kehidupan yang lebih baik, sejauh yang mereka bisa. Apalagi manusia. Aku yakin kalau pohon bisa berjalan, ia akan melemparkan bibitnya lebih jauh dari dua ruas jalan.
note : hari ini dosis dobel!
Ke arah halte, tiba-tiba ada suara ledakan dari atas pohon. Sebuah selongsong pelepah kosong jatuh kebawah, cukup besar bila ada tertimpa. Tapi sebuah pemandangan yang tak bisa kulupakan. Dari samping aku bisa melihat, ledakan pelepah itu melemparkan serbuk sari, bibit dari pohon-pohon itu sejauh mungkin. Seperti partikel-partikel kecil yang meluncur perlahan di udara, terlalu ringan untuk langsung jatuh ke tanah.
Rombongan bibit itu jatuh di dua ruas jalan berikutnya, aku mengikuti dengan pandanganku.
Sejauh itu sang induk berusaha melemparkan anak-anaknya agar tidak tumbuh di tempat yang sama buruk dengannya. Ya, sejauh dua ruas jalan Sudirman itu sang induk bisa menyelamatkan anak-anaknya, harapannya agar mereka bisa hidup lebih baik.
Aku merenung sambil menunggui busku yang belum tampak. Pohon saja, punya naluri untuk memberikan anaknya kehidupan yang lebih baik, sejauh yang mereka bisa. Apalagi manusia. Aku yakin kalau pohon bisa berjalan, ia akan melemparkan bibitnya lebih jauh dari dua ruas jalan.
note : hari ini dosis dobel!
Label:
100
empatpuluh
Di sebuah siang yang panas dalam pelajaran akademik inggris. Guruku bertanya pendapat kami sekelas tentang konservasi. Mereka tertawa dan membuat lelucon tentang kerusakan bumi.
Siang itu sambil menekuni buku aku berdoa, ‘ tuhan, mereka tertawa, mereka bilang aku gila. Tolong jaga kegilaanku sampai aku besar nanti. Supaya aku tetap melekat pada bumi, supaya akhirnya mereka tahu bahwa kita tidak berbisnis denganmu untuk membeli tanah di surga, tapi bagaimana kita menjaga tanah yang sedang kau pinjamkan pada kami. Amin.’
Hari itu pun berlalu, setiap hari aku dikuatkan. Salah satunya yang membuat aku semakin mantap di jalan ini adalah mereka yang menertawakanku.
bersambung : Tuhan, Bantu Aku Agar Tetap Gila
Siang itu sambil menekuni buku aku berdoa, ‘ tuhan, mereka tertawa, mereka bilang aku gila. Tolong jaga kegilaanku sampai aku besar nanti. Supaya aku tetap melekat pada bumi, supaya akhirnya mereka tahu bahwa kita tidak berbisnis denganmu untuk membeli tanah di surga, tapi bagaimana kita menjaga tanah yang sedang kau pinjamkan pada kami. Amin.’
Hari itu pun berlalu, setiap hari aku dikuatkan. Salah satunya yang membuat aku semakin mantap di jalan ini adalah mereka yang menertawakanku.
bersambung : Tuhan, Bantu Aku Agar Tetap Gila
Label:
100
Rabu, 14 April 2010
tigasembilan
Ada lagi cinta yang entah harus dibawa kemana. Kau tahu jalan yang harus kau lalui jelas berbeda. Namun ia terlalu berharga untuk kau lepas, kau pandangi jauh disana tanpa rasa. Jemarimu tak ingin lepas, ingin selamanya menyatu. Tapi kau tau, ada bukit yang harus kau daki, begitu juga dengannya. Kau tak ingin, jemarimu mengikat dan menyandung. Sementara kau telah begitu lekat, menyandar satu sama lain.
Ada saatnya kau tahu bahwa jenis cinta ini harus berikan pelana berbeda. Mungkin bukan jemarimu yang harusnya merengkuh, namun hati. Bukan mata tapi kepercayaan. Entahlah... setelah setengah mataharipun aku mencari tahu, aku belum tahu jawabannya.
Ada saatnya kau tahu bahwa jenis cinta ini harus berikan pelana berbeda. Mungkin bukan jemarimu yang harusnya merengkuh, namun hati. Bukan mata tapi kepercayaan. Entahlah... setelah setengah mataharipun aku mencari tahu, aku belum tahu jawabannya.
Label:
100
tigadelapan
Tapi terkadang ada cinta yang harus diakhiri, tanpa disesali. Perjalanannya indah, jauh berjalan menuruni dan mendaki bukit-bukit rumput yang indah. Sampai akhirnya kau dan dia cukup lelah untuk terus berjalan. Perjalanan itu membuatmu berbagi banyak hal. Mendekatkan kau sampai ke samping tubuhnya. Dan menyatukan jemarimu lebih lekat dari apapun.
Tapi ketika kau tau saatnya berakhir. Kau akan memilih bukit lain untuk kau daki lain kali. Dan ia pun begitu. Jemari kalian merenggang, awalnya kau menangis bilang bahwa kau tak mungkin berjalan lagi sendirian. Tapi setelah beberapa waktu terseok-seok, kau berjalan tegak lagi. Dan melihatnya berjalan jauh disana, tanpa rasa lagi.
Tapi ketika kau tau saatnya berakhir. Kau akan memilih bukit lain untuk kau daki lain kali. Dan ia pun begitu. Jemari kalian merenggang, awalnya kau menangis bilang bahwa kau tak mungkin berjalan lagi sendirian. Tapi setelah beberapa waktu terseok-seok, kau berjalan tegak lagi. Dan melihatnya berjalan jauh disana, tanpa rasa lagi.
Label:
100
tigatujuh
Ada saatnya kita tahu bahwa tak semua cinta harus punya perjalanan. Terkadang, diam di tempat dan menanti adalah perjalanan itu sendiri. Memandangi dan memahami adalah kisahnya, sedangkan melepaskan dan melupakan adalah bagian terindah dari ceritanya.
Terkadang perjalanan diam itu melelahkan. Padahal tak seorangpun beranjak. Namun seisi dunia seakan melaju, dan hanya kau dan dia yang diam di tempat, tak saling mendekat, tapi juga tak saling menjauh. Di jarak yang biasa, jarak yang cukup untuk kau memandanginya, namun jarak yang cukup jauh untuk kau menggapainya.
Ada kalanya kita tahu bahwa ada cinta yang harus diakhiri tanpa dimulai. Akhirannya adalah perjalanannya sendiri.
Terkadang perjalanan diam itu melelahkan. Padahal tak seorangpun beranjak. Namun seisi dunia seakan melaju, dan hanya kau dan dia yang diam di tempat, tak saling mendekat, tapi juga tak saling menjauh. Di jarak yang biasa, jarak yang cukup untuk kau memandanginya, namun jarak yang cukup jauh untuk kau menggapainya.
Ada kalanya kita tahu bahwa ada cinta yang harus diakhiri tanpa dimulai. Akhirannya adalah perjalanannya sendiri.
Label:
100
tigaenam
Aku takut. Ketika aku kembali, bumi tanah ini sudah berevolusi entah beberapa kali. Tidak akan ada yang sama. Semuanya berubah, terseret waktu. Aku pun akan berubah, tak akan pernah pulang dengan menjadi aku yang sama seperti kupergi. Aku akan tetap menemukan seorang jedral memberi hormat tanpa lelah, tapi aku tak yakin setiap orang di kota ini akan sama. Menantiku pulang.
Lebih takut lagi, kalau nanti aku merindukan diriku yang sekarang dan aku tak bisa menemukannya. Mau kutanya pada siapa lagi kalau diriku saja tak kutemukan, kalau ia berubah dan tak dapat dikenali. Menurutmu, akankah si Jendral Menghormat masih akan mengenaliku?
Berlanjut : Jangan Lupakan Aku ya, Jendral!
Lebih takut lagi, kalau nanti aku merindukan diriku yang sekarang dan aku tak bisa menemukannya. Mau kutanya pada siapa lagi kalau diriku saja tak kutemukan, kalau ia berubah dan tak dapat dikenali. Menurutmu, akankah si Jendral Menghormat masih akan mengenaliku?
Berlanjut : Jangan Lupakan Aku ya, Jendral!
Label:
100
tigalima
At the very bottom of everything. Film festival itu bercerita tentang pergulatan seorang pesakitan, manic depression. Yang merasa jatuh ke dasar dan digerogoti oleh penyakitnya. Pilihannya hanya dua, diam dalam dasar yang mematikan atau mencoba mendaki dengan resiko jatuh lebih keras.
Ia bercerita tentang fajar dan senja yang membuat kita merasa aman. Membuat segala sesuatu beraturan, karena kita tahu segalanya akan kembali ke asalnya. Kita punya waktu untuk memperbaiki, untuk menyiapkan awal yang baru, besok ketika fajar datang. Bagi seorang yang berada di dasar, tak ada senja, tak ada fajar, tak ada antara, tak ada yang harus dimulai dan diperbaiki.
Ia bercerita tentang fajar dan senja yang membuat kita merasa aman. Membuat segala sesuatu beraturan, karena kita tahu segalanya akan kembali ke asalnya. Kita punya waktu untuk memperbaiki, untuk menyiapkan awal yang baru, besok ketika fajar datang. Bagi seorang yang berada di dasar, tak ada senja, tak ada fajar, tak ada antara, tak ada yang harus dimulai dan diperbaiki.
Label:
100
tigaempat
Titipkan salamku pada angin, naikan ke kereta biar sampainya cepat, ya yang murah saja tanpa nomor bangku biar ia melihat banyak hal. Biar salamku melihat-lihat jurang-jurang disampingnya. Biar ia singgah di antara rumah penduduk kumuh di pinggir rel, melihat-lihat kehidupan yang belum pernah dicicipinya. Ajarkan salamku untuk berbagi tempat duduk pada ibu yang membawa anak kecil dan berbagi sandaran pada nenek yang tergopoh.
Ketika sampai, suruh ia menolong kakek yang kesulitan membawa barang. Lalu ajarkan dia naik angkot mengelilingi kota kembang. Ajak ia makan cireng,dan mencicipi bajigur. Lalu antarkan dia kepadanya. Salam rindu untuk seseorang yang telah direnggut kota itu.
Ketika sampai, suruh ia menolong kakek yang kesulitan membawa barang. Lalu ajarkan dia naik angkot mengelilingi kota kembang. Ajak ia makan cireng,dan mencicipi bajigur. Lalu antarkan dia kepadanya. Salam rindu untuk seseorang yang telah direnggut kota itu.
Label:
100
tigatiga
Masih ingatkah kamu,
Ketika bulan menjadi malu kau sanjung-sanjung?
Ketika kau bersenandung tentang bentuk awan?
Ketika kau mencuri kecupan dibawah bintang?
Ketika bilang sayang di kegelapan jalan?
Ketika kau mencari jawabku di kebisingan lalu lintas?
Ketika kau menggenggamku dibawah bulan?
Ketika jari-jari kita mempunyai mata dan senyum, menari-nari berdua?
Ketika pasukan semut merah menyerang kakiku?
Ketika menikmati makanan cireng kesukaanku?
Ketika menjanjikan seribu hitungan untukku seorang?
Ketika kau menanyakan pendapatku tentang Descartes?
Ketika kau menceritakanku dunia di masa depan, mimpi-mimpi kita?
Ketika kau mengajarku cara menumis kangkung?
Ketika kau muncul di depan pintu kayu rumahku?
Ketika kamu menyayangiku?
Aku masih.
Ketika bulan menjadi malu kau sanjung-sanjung?
Ketika kau bersenandung tentang bentuk awan?
Ketika kau mencuri kecupan dibawah bintang?
Ketika bilang sayang di kegelapan jalan?
Ketika kau mencari jawabku di kebisingan lalu lintas?
Ketika kau menggenggamku dibawah bulan?
Ketika jari-jari kita mempunyai mata dan senyum, menari-nari berdua?
Ketika pasukan semut merah menyerang kakiku?
Ketika menikmati makanan cireng kesukaanku?
Ketika menjanjikan seribu hitungan untukku seorang?
Ketika kau menanyakan pendapatku tentang Descartes?
Ketika kau menceritakanku dunia di masa depan, mimpi-mimpi kita?
Ketika kau mengajarku cara menumis kangkung?
Ketika kau muncul di depan pintu kayu rumahku?
Ketika kamu menyayangiku?
Aku masih.
Label:
100
Jumat, 02 April 2010
tigadua
‘Siapa yang paling kaya di kelas ini?’ tanya temanku pada sebuah kelas sore.
‘Si A tuh Si A duitnya milyaran kali’ sahutnya.
Lalu pembicaraan makin memanaskan telingaku,
‘Harga rumah lo berapa?’ tanya yang lain. Aku berusaha mengerjakan soal matematika sambil mengabaikan pembicaraan itu.
‘Nah berarti elo lebih kaya!’ pekik seorang lagi.
Aku menengok gusar, ‘Tau nggak siapa paling kaya di seluruh gedung ini?’ tanyaku.
‘Siapa?’ tanya mereka.
‘Aku. Karena aku punya ibu yang berharga lebih dari apapun di dunia ini dan adik yang sangat menyebalkan yang enggak akan mau kalian beli pake sugus sekalipun’
Aku kembali pada soal. Kelas hening.
‘Si A tuh Si A duitnya milyaran kali’ sahutnya.
Lalu pembicaraan makin memanaskan telingaku,
‘Harga rumah lo berapa?’ tanya yang lain. Aku berusaha mengerjakan soal matematika sambil mengabaikan pembicaraan itu.
‘Nah berarti elo lebih kaya!’ pekik seorang lagi.
Aku menengok gusar, ‘Tau nggak siapa paling kaya di seluruh gedung ini?’ tanyaku.
‘Siapa?’ tanya mereka.
‘Aku. Karena aku punya ibu yang berharga lebih dari apapun di dunia ini dan adik yang sangat menyebalkan yang enggak akan mau kalian beli pake sugus sekalipun’
Aku kembali pada soal. Kelas hening.
Label:
100
tigasatu
Remember Me mengingatkanku pada sebuah pepatah lama yang sering didengar, namun jarang dihayati.
‘Live in the Moments’
Karena kita tak akan pernah hidup di saat yang sama lagi. Hidup kita berjalan maju dan tak ada cara untuk kembali. Segala hal kecil yang kita lakukan mungkin tak berarti, tapi itu penting untuk kita lakukan. Setiap manusia adalah maestro dan hidup adalah karya agungnya, sebuah seni yang terus berproses. Ketika kita bicara, kita menorehkan kuas pada lukisan maestro lain. Kehidupan adalah bingkai lukisan yang menyatu satu sama lain. Kita tak akan pernah dapat menghapus sidik jari dari kehidupan yang pernah kita sentuh.
‘Live in the Moments’
Karena kita tak akan pernah hidup di saat yang sama lagi. Hidup kita berjalan maju dan tak ada cara untuk kembali. Segala hal kecil yang kita lakukan mungkin tak berarti, tapi itu penting untuk kita lakukan. Setiap manusia adalah maestro dan hidup adalah karya agungnya, sebuah seni yang terus berproses. Ketika kita bicara, kita menorehkan kuas pada lukisan maestro lain. Kehidupan adalah bingkai lukisan yang menyatu satu sama lain. Kita tak akan pernah dapat menghapus sidik jari dari kehidupan yang pernah kita sentuh.
Label:
100
tigapuluh
Sebagian percaya bahwa pencarian dimulai dari keheningan di bawah sebuah pohon. Sebagian lagi percaya bahwa ia sembunyi dalam batu-batu yang diukir indah. Sebagian percaya bahwa ia telah datang, mati dan bangkit lagi. Sebagian lagi percaya akan menemukannya dalam tekur dan sembah.
Aku tak tahu apa lagi yang kucari. Seseorang pernah menanyakanku ketika sebuah wacana abstrak muncul di antara kami. ‘Sudah dicari belum?’ Tanyanya.
Aku menjawab sederhana, ‘Sudah’.
Sebenarnya aku punya jawaban yang lebih baik dari itu. ‘Aku tidak mencarinya, tapi aku tahu dari sebelum aku bernapas dengan jantungku sendiri bahwa ia tinggal berada tepat di dadaku dan belum pernah pergi.
Aku tak tahu apa lagi yang kucari. Seseorang pernah menanyakanku ketika sebuah wacana abstrak muncul di antara kami. ‘Sudah dicari belum?’ Tanyanya.
Aku menjawab sederhana, ‘Sudah’.
Sebenarnya aku punya jawaban yang lebih baik dari itu. ‘Aku tidak mencarinya, tapi aku tahu dari sebelum aku bernapas dengan jantungku sendiri bahwa ia tinggal berada tepat di dadaku dan belum pernah pergi.
Label:
100
duasembilan
Aku jadi berpikir,
Kalau seandainya tidak kulakukan hal itu. Segalanya akan jadi baik-baik saja. Kau akan tetap disini, disisiku, menggelitik langit bersamaku.
Kalau aku tidak memilih untuk pergi, hari ini kita akan duduk di bangku panjang, menikmati bakso kesukaanku. Tertawa-tawa membahas hari-hari berat kemarin, yang kita lalui dengan berat. Gembira menunggu seragam yang akan segera lepas.
Seandainya aku tidak terlalu berpikiran sederhana, kau akan tersenyum padaku, kita melukis pelangi sambil bermain arti-arti awan.
Jika aku cukup cerdas untuk bersikap, kita akan sama-sama duduk dibawah mentari. Merayakan bersama.
Andai saja aku lebih sedikit berpikir, semuanya akan baik-baik saja. Tanpa perlu kusesali.
Kalau seandainya tidak kulakukan hal itu. Segalanya akan jadi baik-baik saja. Kau akan tetap disini, disisiku, menggelitik langit bersamaku.
Kalau aku tidak memilih untuk pergi, hari ini kita akan duduk di bangku panjang, menikmati bakso kesukaanku. Tertawa-tawa membahas hari-hari berat kemarin, yang kita lalui dengan berat. Gembira menunggu seragam yang akan segera lepas.
Seandainya aku tidak terlalu berpikiran sederhana, kau akan tersenyum padaku, kita melukis pelangi sambil bermain arti-arti awan.
Jika aku cukup cerdas untuk bersikap, kita akan sama-sama duduk dibawah mentari. Merayakan bersama.
Andai saja aku lebih sedikit berpikir, semuanya akan baik-baik saja. Tanpa perlu kusesali.
Label:
100
duadelapan
Setelah kelelahan les dua bahasa dan belajar. Aku minta pada Doraemon-ku yang duduk diatas rak warna merah. ‘Keluarkan alat pelambat waktu. Aku butuh beberapa jam lagi dalam sehari.’ Si Doraemon itu bergeming, dengan senyum lebar menatapku menjauh, kesal.
Suatu kali lagi ketika sedang patah hati, aku bilang ‘Keluarkan alat pencepat waktu. Aku ingin cepat-cepat bulan Agustus. Aku lelah.’ Si Doraemon tetap menyengir . Aku pun pergi lagi dengan kesal.
Lalu aku datang lagi pada Doraemon-ku. ‘Aku minta alat untuk menikmati waktu. Aku sedang kesal’. Dari kantong ajaibnya, dikeluarkannya selembar kertas dan pena. ‘Alat untuk Menikmati Waktu’ Katanya dengan suara sember.
Suatu kali lagi ketika sedang patah hati, aku bilang ‘Keluarkan alat pencepat waktu. Aku ingin cepat-cepat bulan Agustus. Aku lelah.’ Si Doraemon tetap menyengir . Aku pun pergi lagi dengan kesal.
Lalu aku datang lagi pada Doraemon-ku. ‘Aku minta alat untuk menikmati waktu. Aku sedang kesal’. Dari kantong ajaibnya, dikeluarkannya selembar kertas dan pena. ‘Alat untuk Menikmati Waktu’ Katanya dengan suara sember.
Label:
100
duatujuh
Aku heran juga menemukan seorang gadis duduk tegak di antara kursi kayu yang kaku, tangannya fasih mencoret-coret. Kukira ia akan menunduk terkantuk-kantuk. Padahal pembicaraan yang sedang didengarkannya tidaklah mudah. Filsafat Tubuh menurut Planton, judul di pintu ruang kuliah itu. Asing dengan pakaian warna-warni di antara pakaian tua di baris lainnya.
Dia mengetuk jendela kaca. ‘Pak, saya boleh ikutan kelas itu enggak?’
‘Semester barunya bulan Juli.’
‘Tapi saya ngga bisa ikut bulan Juli.’
‘Kamu kuliah dimana? Semester berapa sih?’
‘Belum mulai’
‘Enggak bisa’.
Ia pun beranjak.
Memakai tas dan gelang warna-warni, bukan artinya belum bisa berpikir seberat bapak-bapak di kursi sana.
Dia mengetuk jendela kaca. ‘Pak, saya boleh ikutan kelas itu enggak?’
‘Semester barunya bulan Juli.’
‘Tapi saya ngga bisa ikut bulan Juli.’
‘Kamu kuliah dimana? Semester berapa sih?’
‘Belum mulai’
‘Enggak bisa’.
Ia pun beranjak.
Memakai tas dan gelang warna-warni, bukan artinya belum bisa berpikir seberat bapak-bapak di kursi sana.
Label:
100
Langganan:
Komentar (Atom)