biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.

Rabu, 21 April 2010

empatsatu

Aku sedang berjalan ke arah halte di teriknya jalanan yang dinaungi palem-palem kota. Aku sering bertanya-tanya betapa kasihan pohon-pohon itu, setiap hari mereka kekenyangan karbon dioksida dan monoksida dari kendaraan, belum lagi bus-bus kota yang kentut-kentut tanpa ampun. Asapnya hitam, kasihan pengguna motor, harus menghirup udara racun itu kalau kebetulan jalan dibelakangnya.

Ke arah halte, tiba-tiba ada suara ledakan dari atas pohon. Sebuah selongsong pelepah kosong jatuh kebawah, cukup besar bila ada tertimpa. Tapi sebuah pemandangan yang tak bisa kulupakan. Dari samping aku bisa melihat, ledakan pelepah itu melemparkan serbuk sari, bibit dari pohon-pohon itu sejauh mungkin. Seperti partikel-partikel kecil yang meluncur perlahan di udara, terlalu ringan untuk langsung jatuh ke tanah.

Rombongan bibit itu jatuh di dua ruas jalan berikutnya, aku mengikuti dengan pandanganku.
Sejauh itu sang induk berusaha melemparkan anak-anaknya agar tidak tumbuh di tempat yang sama buruk dengannya. Ya, sejauh dua ruas jalan Sudirman itu sang induk bisa menyelamatkan anak-anaknya, harapannya agar mereka bisa hidup lebih baik.

Aku merenung sambil menunggui busku yang belum tampak. Pohon saja, punya naluri untuk memberikan anaknya kehidupan yang lebih baik, sejauh yang mereka bisa. Apalagi manusia. Aku yakin kalau pohon bisa berjalan, ia akan melemparkan bibitnya lebih jauh dari dua ruas jalan.



note : hari ini dosis dobel!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar