Kini saatnya aku bicara. Entah kepada hati atau logika yang memenjarakanmu. Kau mau kejujuran, sayang? Aku tahu dimana yang salah, aku tahu bagian mana yang patah, hanya saja aku tak mungkin membawamu. Kau terjebak dalam intuisimu sendiri, kau merasa dengan keperempuananmu, berpikir pula dengan itu, begitu juga dengan segala spekulasi konyol dalam kepalamu itu. Kau pun mencinta denganya.
Kau sering bertanya padaku di cermin, ‘Bawa aku pada jalannya, Waktu’, dan aku selalu menjawab jalannya ada di depan matamu yang buta. Kau lalu tersedu, patah hati katamu. Sambil mengusapmu aku bilang, ‘Biar aku yang sembuhkan. Hanya aku yang bisa sembuhkan, sayang’.
biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar