biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.

Senin, 08 Maret 2010

tujuh

Aku merajut sejuta mimpi dalam semalam. Menguatkan fondasi dasarnya dengan banyak bincang-bincang purnama. Membangun dindingnya dengan aksara. Menghias jendelanya dengan membuka mata. Dan membiarkan atapnya dari kaca, agar mentari dapat senantiasa masuk, membaharui seisi ruangan.

Tiba-tiba suatu sore di bulan Oktober yang abu, sebuah angin puting beliung datang meniup habis jedelanya. Lalu kemudian, banjir menggerogoti tembok-temboknya. Dan gempa bumi meretakkan tiang pancangnya. Aku sendirian. Di pojok kamar yang kini telanjang, berdiri di atas lantai yang hampir goyah.

Seorang pewarna langit datang menawarkan sekeranjang kisah untuk bermimpi, memunguti reruntuhan yang berantakan.

“Bagaimana bisa kalau kau tak beranjak dari pojok itu?” tanyanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar