Wajah kota terbaris dalam lorong yang penuh debu. Aku menutup mata, merasakan angin yang melengnggang dari pintu dan jendela yang terbuka. Berbagai suara melebur di telingaku, wajah-wajah termenung, tersenyum, terkantuk-kantuk dianjlok gerbong-gerbong yang berlari sebisa ia bisa, diusianya tidak lagi muda.
Berbagai mata saling menatap waswas, sebagian menatap menyedihkan minta dikasihani, sebagian acuh. Aku di duduk di tengah sebuah gerbong yang lampunya padam, kereta ekonomi terakhir dari ujung Jakarta, merasakan tiap rasa yang mengawang di antara keringat-keringat para pekerja, karyawan, mahasiswa dan pengemis-pengemis yang menatap menerawang pada keremangan. Ini rasa kotaku, wajah kota yang terlukis pada ular besi yang berlari.
biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar