Tadi pagi guruku menunjukan sebuah gambar jembatan besar kepada kelas. Ia bertanya, dimana jembatan itu. Celetukan-celetukan berasal dari sana-sini. “San fransisco”, “Sungai Thames”, “Brooklyn”, mereka menjawab.
Guruku yang orang asing itu tersenyum dan bilang “Sebenarnya ini di Surabaya"
Aku tersenyum kecut dalam hati. Aku duduk di antara 30 anak lainnya yang lebih lancar menggunakan bahasa Inggris dan kata-kata serapan daripada bahasa Indonesia-nya sendiri. Anak-anak yang sebagian besar dari mereka pernah sarapan di Las Vegas, tetapi belum tentu pernah melihat isi Keraton. Anak-anak khatam perdana menteri negri lain daripada presidennya sendiri. Aku dan mereka adalah salah satu produk abrasi yang harus diselamatkan, untuk bumi Indonesia.
biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar