biarkan aku kembali ke dasar, belajar menghitung satu-dua-tiga, sampai aku menemukan diriku pada hitungan yang ke-seratus. 100 kata, 100 cerita, 100 hari, untuk mencari.

Rabu, 17 Maret 2010

enambelas

‘itu namanya pergeseran makna nasionalisme. Masa senin tanpa upacara, dulu aku selalu jadi petugas upacara lho.’ Kata seorang sahabatku di terik matahari.

‘Aku juga.. tapi tidak tiap senin’ sahutku

‘Dari SD begitu’

‘Aku malah dari TK, jadi itu tuh.. apa..’ kataku sambil mengayunkan tangan ke depan seolah memimpin lagu.

‘Oh.. dirigen.. eh dirijen...’

‘Hahahaha.. dirigen mah Rinso.’ Tawaku

‘Dirigen tuh minyak.. hahah dirijen maksunya’ katanya ikut tertawa

Setelah jalan beberapa meter ke depan....

‘HAH? Rinso mah detergen!’ salaknya tiba-tiba padaku.

‘Ohiya ya? Kataku polos.

‘Dasar dodol... Gimana mau belajar banyak bahasa? Bahasa Indonesia aja susah’

‘Keselip dikit’ kataku sambil meringis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar